Skena pop punk kota Depok belakangan ini mulai bergeliat kembali. Serbuan new wave pop punk dan arus deras informasi yang menghujam seluruh penjuru dunia, ikut memberikan dampaknya bagi Depok. Band-band pengusung pop punk mulai bermunculan dan salah satu nama yang patut untuk diperhatikan adalah Southguns. Band yang satu ini memang baru saja dibentuk, tapi tekat mereka untuk melakukan gebrakan sudah bulat dan tak main-main.

Mereka adalah band pop punk yang sarat dengan identitas new wave, sebuah istilah yang populer berkat kesuksesan band seperti The Story So Far dalam menginfus sound yang lebih berat ke dalam musik pop punk. Musik yang dimainkan Southguns bertenaga dengan beberapa bagian yang terdengar bouncing dan dilapisi oleh isian gitar yang cukup catchy dan memorable. Sehingga sangat mudah untuk akhirnya mengasosiasikan musik yang mereka mainkan ke dalam payung yang juga menaungi Neck Deep maupun State Champs. Tapi ketimbang melakukan karbon kopi terhadap nama-nama tersebut, Southguns punya potensi dan cukup banyak waktu untuk memugar karakternya sendiri.

Pada kesempatan ini, Backstage Whisp mempunyai kesempatan untuk memperdengarkan lagu pertama mereka yang berjudul “Grateful” kepada kalian untuk pertama kalinya. Lagu ini adalah bentuk ekspresi paling dalam sekaligus menjadi sebuah ucapan syukur dari mereka bertiga. Saya juga sempat berbincang dengan Dony, gitaris mereka melalui telepon dan kami berbicara mengenai beberapa hal, mulai dari latar belakang band ini sampai rencana mereka selanjutnya.

Kalian bisa mendengarkan “Grateful” dan membaca pembicaraan kami di bawah ini.

Sebagai perkenalan, bisa disebutkan Southguns terdiri atas siapa saja?

Southguns terdiri dari Dony Setiawan (gitar), Addjy Setyo (bass), dan Mochammad Fandhika (gitar dan vokal). Untuk drummer, kita masih memakai additional Edo Saputra dari band hardcore Depok, Stride. Kita semua terdiri dari pecahan berbagai band, Topsy Turvy (pop punk), Fourthway (melodic hardcore), dan Just Hope Out (Japanese punk)

Jadi bagaimana ceritanya kalian bisa bermain musik bersama di Southguns? Siapa yang memulai ide tersebut?

Jadi awalnya gue sama Mochammad Fandhika itu emang dari dulu sering main bareng di rumahnya. Kita suka eksplor musik bareng dan kebetulan punya selera musik yang sama walaupun sebelumnya kita ada di band yang berbeda. Karena kebetulan band punya dia, Just Hope Out lagi istirahat, gue nawarin dia untuk, “Kenapa kita nggak bikin band pop punk aja?”. Tanpa pikir panjang dia langsung tertarik dan (akhirnya) gue juga narik Addjy Setyo yang kebetulan baru keluar dari Fourthway. Akhirnya kita ngumpul dan mutusin buat maju lebih serius dan fokus lagi untuk di proyek ini, karena otak kita bertiga sejalur dan senang sama musik yang kita mainin sekarang ini.

Ada apa dengan nama Southguns? Darimana kalian mendapatkan nama ini?

Sebelum mutusin buat pake nama Southguns, tadinya kita pake nama Thirdway dan pernah sekali juga manggung pake nama Thirdway, tapi setelah manggung kita merasa kurang cocok dengan nama Thirdway dan memutuskan buat cari nama lain yang singkat, asik, dan gampang diinget buat dipatenin. Kenapa akhirnya bisa pake nama Southguns, awalnya karena kita pengen ngegebrak kota kita sendiri Depok, karena menurut kita, pop punk di Depok itu lagi redup-redupnya. Jadi dari istilah ‘gebrakan’ itu, kita bertiga kompak nyari nama yang ada kata “Guns”-nya sebagai tembakan. Nah Fandhika ngasih ide, “Kita kan tinggal di Depok dan deket dari South Jakarta, gimana kalo kita plesetin Shotguns jadi Southguns?”, tanpa pikir panjang kita langsung setuju. Karena menurut gue dan Addjy namanya menarik dan gampang diinget.

Bagaimana proses kreatif terkait penulisan lagu yang terjadi di Southguns?

Untuk pembuatan lagu, kita sudah memiliki job desk masing-masing. Contohnya, gue yang buat pondasi awal aransemen musiknya, Addjy yang buat liriknya, dan Fandhika nambahin sentuhan-sentuhan feel pada gitar biar catchy katanya (tertawa). Fandhika juga yang nyari nada vokal untuk lagu “Grateful”.

Lagu “Grateful” ini bercerita tentang apa? Bisa diceritakan?

Untuk lirik sendiri, ini lebih tepatnya seperti mencurahkan suara hati kita bertiga yang bersyukur masih dikasih umur sampai sekarang. Yang akhirnya memungkinkan kita untuk terus nyalurin hobi, cita-cita, atau keinginan kita untuk terus bermusik. Intinya siapapun nggak ada yang bisa larang atau ngehalangin kita untuk terus nyalurin apa yang kita sukain dan senengin dari dulu. Makannya kita bersyukur sama Tuhan yang sudah ngasih kita kehidupan sampai sekarang, jadi bisa tetap nyalurin hobi dan keinginan yang kita sukain, itulah sedikit tentang “Grateful”.

Jadi lagu ini adalah sebuah pengucapan syukur.

Iya betul, lagu ini adalah penyaluran syukur kita. Karena sekarang juga bertepatan bulan Ramadhan, anggap aja ini lagu religi versi gaul (tertawa).

(Tertawa) Apa yang memotivasi kalian untuk akhirnya bermain musik?

Yang memotivasi kita buat main musik, bisa dibilang untuk membukukan fase kehidupan kita ke dalam sebuah musik.  Karena memang bener-bener kita itu nggak bisa jauh dari musik, setiap saat pasti selalu dengerin musik dan selalu excited sama rilisan terbaru dari band-band favorit kita. Jadi daripada cuma jadi penonton atau pendengar sedangkan kita punya bakat untuk bermusik, kenapa kita nggak salurin bakat sekaligus hobi kita untuk musik?

Jika melihat halaman Bandcamp kalian, kita bisa menemukan sebuah cover dengan tulisan Home

Itu adalah cover untuk EP kita yang Insya Allah akan dirilis akhir September nanti.

Wah kalo begitu akan kita tunggu rilisan kalian, terima kasih banyak ya sudah mau berbincang-bincang.

Siap, terima kasih juga sudah mau meluangkan waktunya untuk Southguns.

 

*kalian bisa mendownload lagu “Grateful” di halaman Bandcamp mereka secara gratis

About The Author

Martin K.Y

I’d love to talk mostly about music and pro wrestling, sometimes about anime and basketball, come talk.

Share
Tweet
+1