Review: Pinegrove "Cardinal"
8.4Score

Salah satu hal yang paling saya nantikan dalam pergantian kalender adalah kemunculan sebuah band yang entah dari mana asalnya, tapi mematikan. Debut album memang nggak selalu mudah, buat saya itu adalah titik dimana sebuah band mengokohkan identitas mereka atau akhirnya terseret gelombang arus yang tidak mereka sukai.

Debut album dari Pinegrove ini bukan pengecualian, untungnya mereka masuk kategori pertama yang saya sebutkan di atas dan untungnya lagi debut mereka seperti yang saya harapkan, mematikan.

pinegrove-cardinal
Tracklist:

1. Old Friends
2. Cadmium
3. Then Again
4. Aphasia
5. Visiting
6. Waveform
7. Size of The Moon
8. New Friends

Saya teringat, saya pernah membaca sebuah kalimat yang berbunyi “Kreativitas adalah bagaimana menjadikan sebuah hal yang rumit menjadi mudah untuk dimengerti.”. Konsep ini mungkin kurang cocok jika dianalogikan dengan Cardinal. Ini bukan album yang langsung kalian pahami, tapi saya kemudian menjadi paham bahwa untuk dapat mengerti suatu hal, tak jarang kita perlu melebur ke dalamnya.

Berisi delapan lagu dengan durasi 30 menit, bukanlah durasi yang lama untuk sebuah album, Cardinal memang membuat saya geleng-geleng kepala. Ini bukanlah sebuah album yang ear catchy, cukup berat memang tapi sangat sebanding dengan konsentrasi yang kau keluarkan. Album ini kental dengan pengaruh indie rock, folk, sampai country dan saya sangat menikmati betul setiap detiknya.

Stephen Hall, vokalis dari Pinegrove sendiri mendeskripsikan band mereka sebagai perpaduan antara math rock dan Americana. Sehingga tidak mengagetkan ketika akhirnya buah pikiran Hall tersebut menjelma menjadi sebuah musik yang emosional, intim, dan berwarna. Hall tampak begitu menghayati betul setiap lirik yang dia nyanyikan, luapan emosi yang dia keluarkan dapat kita hayati dari pilihan nada yang dia nyanyikan. Kita seakan bisa langsung membayangkan bagaimana ekspresi Stephen Hall ketika bernyanyi dalam lagu “Cadmium”, “New Friends” maupun “Size of The Moon”. Dia menurut saya adalah seorang ekspresionis yang tak segan-segan untuk memilih storytelling dalam menyalurkan emosinya. Secara teknik menyanyi, Hall memang tidak elit, tetapi jangan sangsikan kemampuan berceritanya.

Materi album Pinegrove, meski sederhana tapi cukup beragam. Ada lagu yang memang pas untuk vocal gangbang, seperti lagu “Cadmium” dan “Aphasia”. Bisa dibayangkan bagaimana bagian verse pertama dari “Cadmium” menjadi semacam encore yang akan terus dinyanyikan sampai mereka menjadi lelah. Ada pula lagu yang sarat dengan nuansa country seperti “Waveform” untuk melemaskan urat sarafmu sejenak. Satu poin penting lainnya yang tidak bisa disepelekan begitu saja adalah efek banjo, yang mengingatkan akan gaya Sufjan Stevens. Suara banjo ini banyak ditemui di album Cardinal dan sudah terasa begitu memasuki track pertama “Old Friends”.

Apa yang membuat Cardinal begitu spesial adalah bagaimana sebuah konsep sederhana dapat saling melengkapi satu sama lain sehingga terdengar begitu dinamis. Pujian pantas diberikan kepada Nick Levine dalam memainkan bagian gitarnya tanpa terdengar berlebihan. Dengan beberapa kali menggunakan teknik finger picking ala gitar akustik, Nick mampu mengakomodasi permainan gitar dari Steven Hall yang memang terdengar cukup asal-asalan.

Pinegrove memang tidak pernah memproklamasikan diri mereka sebagai band emo, tapi Cardinal bisa menjadi bagian penting dalam usaha membangkitkan kembali kejayaan emo. Bukan emo yang didasarkan pada gaya rambut atau vokal yang melengking, tetapi emosional dalam arti yang sesungguhnya. Sesuatu yang membuat band seperti Saves the Day begitu disukai dan Brand New diagungkan bak dewa.

Seperti yang saya bilang sebelumnya, album ini tidaklah catchy sesuai standar yang diterapkan secara umum dan sepertinya bukan itu intensi dari Pinegrove saat menulis Cardinal. Album ini juga seperti tidak ingin terdengar gagah, ini album yang sederhana. Sesederhana bagaimana engkau mau mengungkapkan apapun yang ada di pikiranmu dan di balik kesederhaan itu, kita seperti sedang menemukan sebuah permata di padang rumput. Tidak terpikir untuk dicari, tetapi sangat berkesan.

Go listen: Old Friends, Cadmium, Aphasia

About The Author

Martin K.Y

I’d love to talk mostly about music and pro wrestling, sometimes about anime and basketball, come talk.

Share
Tweet
+1