Review: Charly Bliss - Guppy
7.5Score

Masih ingatkah pada sitkom seperti FRIENDS? Atau film kelas B dengan lawakan yang sebenarnya sangat crappy seperti American Pie? Ada satu benang merah yang menghubungkan film atau series di waktu itu, yaitu penggunaan lagu-lagu indie rock atau pop punk, atau mungkin malah lebih layak disebut sebagai teen rock (?) dalam produksi audionya dan akui saja, masih banyak orang terjebak dalam nostalgia akan lagu-lagu seperti itu hingga sekarang.

Nah, Charly Bliss ini sebenarnya bukan merupakan band yang masuk dalam radar saya sama sekali, namun satu lagu berjudul “Glitter” cukup untuk meyakinkan saya bahwa band yang ini tak bisa didiamkan begitu saja. Menghabiskan waktu tiga tahun lamanya untuk memproduksi album debut mereka sejak EP pertama yang mereka rilis pada tahun 2014 lalu, Charly Bliss memulai segalanya dalam tatanan musik garage rock ala The Strokes. Singkatnya, jika kalian mendengarkan Charly Bliss di periode 2014, yang akan kalian temukan adalah perpaduan antara manisnya suara seorang Eva Kendricks bertemu dengan kekacauan yang ditimbulkan oleh departemen gitar dan drum yang seperti bermain tanpa acuan. Tiga tahun selanjutnya, Charly Bliss justru meniupkan kembali nafas poppy indie rock dalam skena musik yang terus menerus berkembang ini.

Charly Bliss GuppyTracklist:
1. Percolator
2. Westermarck
3. Glitter
4. Black Hole
5. Scare U
6. Ruby
7. DQ
8. Gatorade
9. Totalizer
10. Julia

Musik yang dimainkan Charly Bliss memiliki segalanya untuk menjadi langganan sitkom dengan tema romance comedy atau film dengan tema high school. Yang pertama, vokalis Eva Kendricks memiliki warna suara yang cukup distingtif untuk membedakan band ini dengan band yang lainnya, terdengar sangat feminim dan playful, suara yang sangat tepat untuk melengkapi musik teenage pop rock seperti ini. Yang kedua, band yang satu ini sudah terbukti tak hanya bisa bermain di jalur pop rock yang pada masa tertentu akan mencapai titik menjemukan, namun mereka juga bisa bermain di jalur lain untuk dikombinasikan dengan elemen pop. Yang ketiga, band yang satu ini mempunyai kemampuan dalam menemukan hook pop yang sangat matang dan earworm, memaksamu untuk mengulangi bagian-bagian tertentu sampai kalian merasa mual. Dari ketiga alasan itulah, tanpa harus mengerti konten yang ditawarkan Charly Bliss kita sudah bisa menebak bahwa band ini adalah representatif dari teenage pop rock 90an yang bisa memberikan kenangan pada kalian semua di kemudian hari.

Alasan pertama dan alasan kedua yang saya kemukakan di atas adalah salah satu kekuatan utama dari album berjudul Guppy ini. Biasanya musik pop masa kini akan mencari jalan paling pintas untuk bermain sesederhana mungkin dengan konsep paling membosankan sebisa mungkin (see: Ed Sheeran), namun Charly Bliss memutuskan bahwa mereka bukanlah band yang akan bermain di area tersebut, walaupun mereka tau bahwa mereka memiliki elemen pop yang sangat kuat di sini.

Single pertama sekaligus lagu terbaru yang mereka rilis dalam mempromosikan album ini mereka berjudul “Glitter” contohnya, lagu ini adalah sebuah tipikal lagu dengan hook yang sangat seduktif, tanpa perlu part yang rumit. Seperti pelajaran pop 101, mereka menunjukkan untuk dapat memberikan kenangan yang membekas bagi pendengarnya adalah dengan penulisan hook pop yang pas takarannya. Siapa yang tahan untuk tidak mengulangi bagian chorus dari lagu “Glitter” ini? Lagu ini adalah segala yang tertulis dalam 20 dekade ke belakang tentang apa itu pop rock, atau jika kalian (ternyata) tidak menyukai bagian ini, paling tidak bagian ini mempunyai kemampuan untuk tinggal dalam alam bawah sadar kalian untuk sewaktu waktu muncul begitu saja dan kalian akan mulai bertanya-tanya, “Lagu apa sih itu tadi?”.

Meski terdengar seperti menggantungkan kesuksesan mereka dalam menembus alam bawah sadar pendengarnya melalui hook pop saja, Charly Bliss tidak serta merta membiarkan bagian yang lain terasa kosong. Kita masih bisa mendengarkan pengaruh garage rock yang masih mendominasi permainan gitar mereka. Bagian ini begitu energik, liar, dan beberapa kali mengambil fokus yang seharusnya dikuasai oleh suara Eva Kendricks. Dengarkan saja lagu pembuka dari album ini, “Percolator”, lagu ini penuh dengan bagian gitar yang liar dan memekakan telinga. Tak hanya di lagu ini saja, guitar-party jika bisa ditemukan di banyak bagian lain. Mereka tidak sepenuhnya menyingkirkan gaya bermain yang dapat ditemukan di debut EP mereka, malahan mereka melakukan terobosan dengan menggabungkan hook pop yang manisnya keterlaluan dengan raungan garage rock untuk menghasilkan sesuatu yang kontras.

Charly Bliss membuktikan, hanya karena mereka memainkan musik pop bukan berarti mereka mempunyai alasan untuk mengerjakan album ini sekedarnya saja. Jika kita dengarkan sejak lagu pembuka yang langsung menghentak berjudul “Percolator”, kita dapat mendengarkan bagaimana band ini mampu menulis lagu dengan luar biasa menarik, entah secara konten maupun secara pemilihan aspek musikal lainnya. Mereka seperti tak kekurangan ide tentang akan dibawa kemana lagu yang mereka tulis, memang beberapa kali mereka memainkan gaya struktural yang terbukti memang disukai pendengar umum, namun kurang ajarnya mereka mengisi bagian-bagian familiar itu dengan sentuhan yang tidak terdengar half-assed, seperti di bagian interlude lagu “Totalizer”, ketika mereka mulai bergerak dari crappy solo guitar menuju pre-verse. Saya pikir mereka sangat cerdas sekali dalam mengkonstruk bagian yang seperti ini karena bagian ini sama sekali tidak terpikirkan akan dijadikan seperti itu.

Band ini sepertinya memang senang menabrak paradigma, tak hanya berhenti pada instrumentalisasi yang (walau terkadang over the top) menakjubkan, mereka juga mengacungkan jari tengah terhadap felt-good pop songs masa kini di luar sana yang berada dalam lingkaran party-i’m better than you-your life sucks-i’m still better than you-my life’s great-you and your friends suck-You’ve never heard of me, but you hate me anyway-beat it haters dengan lirik yang benar-benar dalam dan penuh perasaan. Eva banyak bercerita mengenai luka, kelemahan, dan kejujuran yang malah bisa terdengar sangat naif. Pembawaan yang seperti itu justru menjadi nilai lebih bagi album ini, melalui Guppy, kita bisa mengenal dan belajar banyak tentang sudut pandang Eva Kendricks dalam mewakili perempuan di zaman modern ini. Saya sendiri menyukai permainan kata yang Eva terapkan dalam menulis lagu “Glitter”, tak hanya menginfeksi dengan hook serta ke-kecean nadanya, lagu ini adalah harapan bagi semua orang yang pernah berada pada hubungan abusif. Eva seperti menghantam dengan keras ketika dia beretorika dalam bagian chorus, “Am I the best? Or just the first person to say yes?”. Oh boy, saya kira apa yang dikatakan Eva di sini sangat relevan dengan kondisi terkini, dimana tak sedikit hubungan mulai tergantikan dengan hal-hal artifisial seperti “Yang penting punya pacar” ketimbang mencari makna yang lebih dalam, dan itu semua menjurus kepada abusive relationship.

Pada akhirnya, secara singkat mereka menawarkan sebuah premis: penjelajahan kisah kehidupan remaja tanpa upaya sugar coating sedikitpun, sebuah album penuh dengan keliaran dan kebisingan yang semuanya dilekatkan oleh sensibilitas pop yang keterlaluan. Memang album ini memiliki bagian yang menjengkelkan seperti squeeking yang saya rasa tidak perlu (atau kalaupun perlu, saya rasa tetap tidak akan menyukainya) dan beberapa bagian yang terdengar sedikit malas, seperti tanpa inspirasi, seperti di lagu “Gatorade”. Namun, hal itu tetap tidak mengaburkan bahwa mereka menghasilkan sebuah album yang dalam dengan cara se-catchy mungkin di sini. Satu hal yang menarik perhatian saya, mereka memulai album ini dengan lagu “Percolator” yang gusrah-gusruh (baca= hingar bingar) tapi menutupnya dengan sebuah lagu ballad dalam judul “Julia”. Mungkin ini ada artinya, mungkin tidak, namun jika saya boleh berasumsi, penetapan tracklist seperti itu seperti menggambarkan bahwa mereka akhirnya menemukan kedamaian setelah mengeluarkan semuanya tanpa ampun dan jika itu berhasil bagi mereka, kalian pun seharusnya mencoba untuk mengeluarkan semua uneg-uneg kalian tanpa ampun juga.

Go listen: “Glitter”, “Totalizer”, “Westermarck”.

 

Kalian bisa mendengarkan dan membeli album Guppy secara langsung di halaman Bandcamp mereka atau di iTunes. Ikuti terus Backstage Whisp untuk ulasan dan berita musik terbaru di seluruh dunia.

About The Author

Martin K.Y

I'd love to talk mostly about music and pro wrestling, sometimes about anime and basketball, come talk.

Share
Tweet
+1