One Direction: a Boyband? Maybe yes, maybe yes!

Awal dikenalkan boyband dari Inggris sama teman, yang mana jebolan salah satu ajang pencarian bakat ini  biasa aja. Apa istimewanya? Mungkin sama aja kayak boyband yang suka lipsync sambil joget-joget. Isinya brondong-brondong di bawah usia 20 tahun, ngarepin apa?

Di bulan Juni di mana dia dijadikan tema puisi oleh seorang sastrawan, tiba lah sebuah kejatuhan. Lebih dari kejatuhan, melainkan kenyusrukan. Kejatuhan cinta lebih mendingan daripada saat nyusruk, meskipun itu juga karena cinta. Datanglah seorang teman, yang membawa serta sebuah video berisikan salah satu member boyband yang sedang naik daun.

Video bocah udik, pikirku kala itu. Tapi Si Teman ini belum menyerah, kemudian video-video lain mulai berdatangan. Keudikan-udikan lain menyesaki pikiran yang baru saja nyusruk dikarenakan cinta…

Benci dan cinta batasnya setipis bawang goreng di nasi uduk langganan. Yang tadinya cinta, akhirnya nyusruk juga. Yang dipikir ganggu dari awal, lama-lama tumbuh benih-benih cinta. Aku terhibur dengan kenorakan dan keudikan mereka, it is like laughing at stupid group that doing stupid thing in your class. The difference is, they are very rich and famous.

Kemudian aku berubah menjadi fangirl secara tak sadar, semacam kesurupan tapi kesambet setan dari Inggris. Dari situ, aku tahu kalau mereka adalah kumpulan orang-orang baik yang berjuang bersama dari nol. Kumpulan lima karakter dengan tingkah laku konyol yang berbeda, bintang besar yang selalu ingat siapa yang membawa mereka ke titik sekarang: fans-fansnya. Mereka selalu berhenti untuk fans, membuka kaca mobil saat fans memanggil nama mereka dari mobil lain ketika macet dan bersedia berfoto atau tanda tangan, bahkan mau berfoto dengan 100 cewek yang menunggu di lobby hotel. Mereka aktif di kegiatan sosial, bersahabat dengan penderita kanker, digila-gilai anak-anak. Jadi jangan heran kenapa di konser-konser One Direction banyak bapak-bapak; mereka adalah bapak-bapak pendamping anak-anak tadi.

They can sing, but can’t dance! Sebagai so-called boyband, aku merasa inilah kekurangan mereka. Mereka nggak bisa joget, bahkan selama 4 tahun, satu koreografi yang sangat gampang dan pendek saja, mereka nggak kompak! Lipsync bukan daftar di list lagu yang akan dibawakan di panggung, baju nggak seragam pula!

Selain title member, mereka juga main alat musik, mencipta lagu. Komplet di satu paket. They are so kind, kami sebagai fans tidak hanya mencintai One Direction, tapi juga timnya. Bodyguard, manager, fashion stylish, make up artist, keluarga member sendiri, sampai Simon Cowell. Mereka adalah keluarga. Kami adalah keluarga.

Sebelum kenal One Direction, aku memandang sebelah mata sebuah boyband. Apa hebatnya? Apa menariknya? Tapi sekarang, aku tahu dan mengerti rasanya; rasanya menggila-gilai sesuatu sampai merasa benar-benar gila. Emosi diacak-acak, dari senang, sedih, histeris, sampai terharu. Aku sampai lupa sedang patah hati, atau mungkin boyband ini sudah berhasil menyembuhkan luka hati ini. Huft.

Jadi kalau ada seseorang yang bilang “Dia adalah pahlawanku” ke seorang bintang, aku bisa mengerti. Bukan hal yang mustahil, karena aku sendiri diselamatkan dari keterpurukan pasca-putus. One Direction is my hero after Batman and Indomie.

Ada satu wawancara fans yang dimasukan ke film dokumenter pertama One Direction (This Is Us), dia bilang “I know they love me, even they don’t know me. I know.”

We know…

By: Rara

@rararatnaP

About The Author

Redaksi

Backstage Whisp (http://backstagewhisp.com/) adalah media online musik alternatif berbahasa Indonesia.
Informasi lebih lanjut silahkan menghubungi kami di [email protected]

Share
Tweet
+1