Review: Moose Blood - Blush
7Score

Di tengah banjirnya band-band pengusung emo yang sepertinya semakin tak terbendung akhir-akhir ini, ada satu nama yang menyelip dan tak jarang dianggap inferior ketika kita membandingkannya dengan nama seperti The Hotelier atau nama veteran seperti Saosin. Padahal Moose Blood adalah jawaban UK atas perkembangan musik emo di US yang dalam beberapa tahun terakhir sangat intens melahirkan nama-nama baru. Sehingga bukan sesuatu yang berlebihan ketika kita menganggap Moose Blood sebagai representasi terbesar dari emo revival di UK.

Bergabung dengan Hopeless Records, Moose Blood tentu paham bahwa salah satu strategi terbaik untuk menguasai pasar Amerika Serikat adalah dengan bergabung dengan salah satu label raksasa di negeri tersebut. Bagaimanapun juga inilah label yang membawa nama All Time Low, We Are The In Crowd, sampai The Wonder Years merajai musik sidestream beberapa tahun yang lalu. Sehingga lompatan ini seharusnya menguntungkan bagi band yang dipuji karena berhasil menonjolkan sisi pop dari emo dengan cukup cantik di album debut mereka I’ll Keep You In Mind, From Time To Time.

Blush Tracklist:
1. Pastel
2. Honey
3. Knuckles
4. Sulk
5. Glow
6. Cheek
7. Sway
8. Shimmer
9. Spring
10. Freckle

Sesaat saja kita dapat mengetahui bahwa mereka cukup serius dalam mempersiapkan album kedua mereka. Tak hanya musikalitas yang mereka poles, mulai dari gimmick serta estetika mendapat perhatian dari mereka. Mereka seperti ingin berteriak bahwa kita tak perlu menyangkal bahwa emo memiliki sisi feminim, teriakan mereka bukan tanpa residu, langkah paling awal adalah mengimitasi kompatriot mereka, The 1975 dalam menonjolkan warna pink. Perubahan estetika ini yang akhirnya mendasari kecurigaan saya bahwa album kedua mereka, Blush akan sangat pop-ish. Sehingga semuanya menjadi masuk akal ketika mereka bergabung dengan Hopeless, bukankah Hopeless Records adalah label yang paling getol dalam melakukan glorifikasi pop rock dalam roster mereka?

Jika dibandingkan dengan debut mereka, I’ll Keep You In Mind, From Time To Time perubahan langsung bisa dirasakan begitu track pembuka memasuki ruang pendengaran kita. Moose Blood langsung tancap gas dengan sebuah lagu pembuka yang bisa dibilang catchy, bahkan terlampau catchy sehingga bukan sebuah kesalahan ketika kalian mengidentifikasikan Moose Blood sebagai band pop rock. Ada satu yang begitu menarik di sini, sound di album ini akan terasa familiar jika kalian penggemar musik alternative tahun 2000an awal. Jauh dari kesan over produced dan too polished seperti album kedua State Champs yang mengerikan itu. Bukankah ini sebuah pertanda yang baik?

Materi di album Blush secara garis besar sangatlah easy listening, beberapa lagu akan langsung terekam dengan baik di memori kita. Sebagai contoh, ambilah chorus dari “Knuckles”, lagu ini memiliki struktur yang sangat simpel dan berulang kali dipakai tapi ketika kita mulai berbicara tentang chorus tentu kita akan setuju bahwa chorus di lagu ini cukup catchy walaupun terhitung sedikit aneh, awkwardly catchy mungkin sebutan yang tepat. Sehingga terciptalah sebuah album yang memang didesain sedemikian rupa untuk memberikan impresi singkat dan menyenangkan.

Semakin mendalami album ini, kita juga akan semakin menyadari bahwa album ini benar-benar jauh lebih pop-ish dibandingkan album debut mereka. Sebagai perbandingan, vokal dari Eddy Brewerton di album ini terdengar lebih kalem, lebih terkontrol namun sayangnya justru sedikit datar. Beberapa bagian justru terdengar tidak bermakna sama sekali, seperti di lagu “Sulk” dimana Eddy mencoba untuk melakukan penghayatan yang sayangnya justru terkesan anti-klimaks. Sejujurnya lirik di lagu ini juga sedikit cringey, mungkin itulah alasan yang membuat Eddy seperti ogah-ogahan dalam menyanyikan lagu ini.

Berbicara tentang lirik dan juga tema di album ini secara keseluruhan, saya baru menyadari bahwa sebenarnya ada sebuah cerita serius yang ingin diceritakan. Seperti lagu “Sulk” yang bercerita tentang hubungan Eddy dengan ibunya. Hanya saja, sebuah tema yang begitu penting seperti itu justru terkesan dikerjakan dengan asal-asalan, hasilnya sebuah lirik kosong yang mengurangi nilai dari album ini secara keseluruhan. Untung mereka tidak mengulangi kesembronoan seperti itu di lagu “Spring” yang bercerita tentang kematian ayah dari Mark Osborne (gitar), untung saja. Tapi di balik itu, rasanya kita perlu memaafkan mereka karena usia mereka yang terbilang masih sangat muda. Seperti seorang Jesse Lacey yang berkembang dari pemuda labil di Your Favorite Weapon menjadi seorang pujangga di The Devil and God Are Raging Inside Me, tentu kita juga mengharapkan Eddy Brewerton akan mencapai potensinya suatu waktu nanti karena tidak semua orang terlahir sebagai Christian Holden.

Setelah mendengarkan album ini secara utuh, saya sadar bahwa bagian kedua dari album ini jauh lebih menarik ketimbang bagian pertama mereka. Ketika kita mencapai tiga lagu terakhir, kita juga akan menyadari bahwa tulang punggung dari album ini adalah lagu “Shimmer”, “Spring”, dan “Freckle”. Ketiga lagu tersebut mewakili Moose Blood secara utuh dan terdengar seperti Moose Blood yang kita harapkan.

Terlepas dari materi album yang catchy, album ini lebih layak disebut sebagai sebuah koleksi single daripada sebuah album yang kohesif. Beberapa materi juga terbilang uninspired, mengandalkan pola yang diulang-ulang, generik dan juga formulatif. Sekilas Moose Blood terdengar bermain terlalu aman di sini, sehingga jika dibandingkan dengan debut mereka, justru seperti sebuah dekadensi.

Tak buruk memang, terbukti perubahan estetika yang mereka tampilkan untuk menjadi lebih romantis bisa dibilang berhasil. Sehingga dalam 10 tahun mendatang, mungkin dengan cara seperti inilah akhirnya kita mengidentifikasi Moose Blood. Secara produksi, album ini juga sangat solid, saya pribadi sangat menyukai tone dari gitar dan juga bass yang membuat album ini terdengar crunchy walau beberapa isian sejatinya cukup cheesy.

Jika kalian menginginkan sebuah album dengan lagu-lagu yang ringan serta radio friendly, ini adalah album yang harus kalian dengarkan. Tapi jika gagasan kalian tentang sebuah album harus berupa story telling yang dalam dan juga emosi yang mengalir, saya kira album ini kurang layak untuk disebut demikian.

Go listen: “Shimmer”, “Spring”, “Freckle”

About The Author

Martin K.Y

I'd love to talk mostly about music and pro wrestling, sometimes about anime and basketball, come talk.

Share
Tweet
+1