Sejak pertama kali merilis demo mereka di tahun 2012, nama Modern Guns cukup familiar di telinga para penikmat hardcore di Indonesia. Musik agresif dengan balutan melodik memberi sebuah identitas yang kuat bagi mereka, melekat bak sesuatu yang sudah ditakdirkan sejak dahulu kala. Setelah EP Pure Love From Black Heart pada tahun 2014 lalu, nama mereka semakin melesat tajam menuju tempat yang diisi oleh nama-nama tak sembarangan. Sebuah tempat yang diperuntukan bagi band yang dianggap layak sebagai pemuncak genre di skena lokal. Tahun 2016 ini, kuintet pengusung melodic hardcore asal Depok ini akan merilis rilisan terkini sekaligus paling emosional yang bisa mereka bayangkan.

Dua buah single sudah mereka luncurkan sebelum perilisan resmi album mereka, The Place Where I Left You. Single “Hopesfall” adalah sebuah single melodic hardcore dengan pengaruh emo yang sangat kuat sekali, sementara single “Enola” yang merupakan sebuah kata reverse code adalah lagu yang membawa sisi agresif mereka tetap menyala. Dihubungi melalui email, vokalis dari Modern Guns, Gaga menyebut bahwa album ini adalah tentang sebuah perpisahan yang ditakdirkan. Sebuah album yang juga menjadi eulogi untuk salah satu personel mereka.

The Place Where I Left You akan dirilis pada 30 Juni 2016 nanti melalui Armstrecth Records. Dapat dibeli langsung di halaman Bandcamp mereka Bandcamp Modern Guns. Kalian bisa mendengarkan lagu tebaru mereka “Enola” di bawah ini.

Modern Guns 2

Hai apa kabar?

Baik dan terimakasih udah mau interview.

Bagaimana dengan proses pengerjaan album baru kalian?

Alhamdullilah semuanya sudah rampung 100% dan sekarang dalam tahap produksi CD oleh label kita.

Gue rasa, kalian pasti mempunyai filosofi dalam pemilihan cover album The Place Where I Left You.

Ya benar sekali, album ini adalah album terakhir kita bersama Partanx, bassist kita yg sekarang menetap di Bali dan album ini adalah karya terakhir Partanx sebelum dia resign dari Modern Guns.

Bisa diceritakan? 

Album ini dibuat karena Partanx, bassist kita, harus pulang ke Bali dan menetap di sana bersama keluarganya. Dua minggu sebelum dia pindah ke Bali dia menulis 5 lagu yang ada di album ini, dua lagu berikutnya dibuat oleh Rendy, gitaris kita dan Mimin mantan music director kita di album Pure Love From The Black Heart. Dua hari sebelum dia pulang ke Bali kita sempet merekam guide gitar untuk album ini Endless Studio, studio milik gitaris kita, Chads Pratama

Cover album ini tertulis di halaman Bandcamp kalian diambil oleh Erik Pettersson, seorang fotografer asal Swedia. Bagaimana kerja sama tersebut bisa terjalin?

Sebenarnya dari album sebelumnya kita udah pake photo set-nya Erik, waktu dia datang ke Jakarta bersama band Swedia, ANCOR. Gue ngobrol banyak dengan dia dan kebetulan dia fotografer, lalu gue coba ngomong ke dia untuk pake foto-fotonya buat album kita dan dia support banget karena belum ada fotonya yg dipake untuk cover album band sebelumnya.

Apa ada sebuah peristiwa penting yang ingin kalian ceritakan dalam mengawali album ini?

Seperti yang sudah gue jelaskan di pertanyaan sebelumnya lagu ini dibikin dan ditulis liriknya oleh Partanx yang menggambarkan saat-saat terpuruk dia merantau ke Depok dan harus beradu argumen dengan orang tuanya untuk balik ke Bali. Akhirnya dia meninggalkan kita, teman-teman band-nya dan juga sahabat dia selama di Depok. Partanx menulis lagu-lagu di album ini sebelum pindah ke bali dan gue yang memberi judul album ini The Place Where I Left You sebagai perpisahan Partanx dan Modern Guns.

Jadi apa yang coba kalian sampaikan dengan The Place Where I left You?

Sebuah perpisahan yang ditakdirkan, begitu menurut gue pribadi.

Berbicara mengenai single kedua kalian “Enola” gue sempet merasa bahwa kata “Enola” adalah reverse dari kata alone.

Ya betul sekali, sebelum memberi judul  “Enola” sebelumnya gue mendengarkan lagunya Title Fight yang berjudul “MRAHC” yang berasal dari kata charm yang juga dibalik oleh mereka (tertawa). Kebetulan enola lumayan enak kalo dibalik jadi kita putusakan membalik kata alone menjadi enola buat track ke 3 di album ini.

Modern Guns 1

Di album ini sepertinya kalian ingin mengeluarkan inner emo kalian. Mulai dari mood, atmosfer, sampai lirik gue rasa itu sangat emo sekali. Apa ini arah yang selalu kalian pertimbangkan sebelumnya?

Mungkin liriknya aja yang agak emo, semua tracknya masih melodic hardcore dengan campuran sedikit band-band emo revival seperti Title Fight , Movements , Citizen, dan Balance and Composure. Dalam pembuatan album ini kita banyak sekali mendengarkan lagu-lagu dari mereka jadi sedikit mempengaruhi (kita) dalam pembuatan lagu dan penulisan lirik-lirik di album ini.

Less hardcore and more emo, pendapat kalian? Apakah kalian tertarik untuk menjadikannya sebagai identitas musik Modern Guns?

(Tertawa) Nggak sepenuhnya setuju kalo di bilang more emo, karena kita grow up di scene hardcore dan band-band yang mempengaruhi kita juga bukan band-band screamo atau emo polem (tertawa), lebih tepatnya ke band-band emo revival dengan pengaruh 90’s emo dan band emo revival yg kita dengerin jg sangat kuat root-nya di scene hardcore di sana.

(Tertawa) Oke bisa diceritakan bagaimana proses kerja sama kalian dengan Praditya Eka Putra di lagu “Hopesfall”. Bagaimana dinamikanya?

Gue tau pas Pradit bisa nyanyi dengan suara yang kasar, jadi gue putuskan untuk mengajak dia kerjasama di album baru kita dengan mengisi clean voice di beberapa lagu.

Gue selalu merasa lagu “Hopesfall” adalah lagu yang menantang bagi kalian. Lagu ini melodic, mempunyai sound depresif dan seperti dipersiapkan dengan sangat matang. Apa kalian merasa ini adalah lagu terbaik yang pernah kalian tulis?

So far kami sangat puas dengan lagu ini dan lagu ini memberikan warna yg baru bagi musik kita sekarang. Lagu ini awalnya sering kita bawain untuk intro dan tiba-tiba gue dan Partanx jamming di kostan dia dengan gue masukin nada vokal. Kedengerannya lumayan asik kalo dijadiin lagu dan gue memutuskan intro ini di-take jadi lagu dan gue beri judul “Hopesfall”.

Kalo begitu, ada lagu yang lebih menantang?

Bagi gue pribadi lagu “To The Shore”.

Bisa dibilang Praditya Eka Putra (Limerence) cukup banyak membantu kalian di album ini. Apa ada rencana untuk melakukan split dengan mereka?

Tunggu tanggal mainnya (tertawa).

Sekarang emo mulai menyebar kembali, sehingga memunculkan istilah emo revival. Kita bisa melihat sebuah pergerakan midwest emo yang cukup menarik untuk disimak di kota Malang. Bagaimana dengan kota Depok?

Mungkin  band-band emo revival di Depok masih jarang. Bagi gue pribadi scene Depok di tahun 2016 ini sangat produktif, banyak band-band baru yang bagus bermunculan lalu mengeluarkan demo. Band-band terdahulu (juga) banyak yang merilis abum baru di tahun di 2016 ini. Bangga sekali dengan perkembangan scene Depok sekarang.

Oke, terakhir. Apakah kalian akan melakukan tur setelah ini? Bisa dibocorkan sedikit?

Mungkin Oktober ini kita akan melakukan tur di berapa kota di Kalimantan dan Sumatera yang masih direncanakan dengan matang, mudah-mudahan terlaksana.

Amin. Okay terima kasih sudah berbincang.

Terima kasih kembali.

 

*Semua foto berasal dari dokumen pribadi Modern Guns

About The Author

Martin K.Y

I’d love to talk mostly about music and pro wrestling, sometimes about anime and basketball, come talk.

Share
Tweet
+1