Mari kita sedikit berandai-andai, andaikan sekitar 10 tahun yang lalu Before Today masih bertahan apa yang akan terjadi? Mungkin jawabannya adalah kita tidak akan pernah mendengar nama Pierce The Veil. Ya memang benar, band yang sering disebut menganut mexi-core ini awalnya adalah hasil dari bubarnya proyek pertama duo Fuentes, Mike dan Vic yang bernama Before Today. Before Today sendiri adalah band yang bertumbuh dari skena punk rock di San Diego, album mereka yang dirilis tahun 2004 adalah testimoni dari hal itu, album ini sangat kental dengan pengaruh punk rock ala 90an dengan bumbu screamo.

Setelah Before Today dibubarkan, Mike dan Vic (Fuentes) akhirnya memutuskan untuk tetap bermain musik, tapi kali ini dengan moniker baru Pierce The Veil. Nama Pierce The Veil sendiri bukanlah nama yang datang dari antah berantah, tapi merupakan judul track ke-3 dari album A Celebration of an Ending milik band mereka sebelumnya Before Today. Pemilihan nama Pierce The Veil ini bukan tanpa sebab. Vic Fuentes, sebagai sosok yang memilih nama Pierce The Veil, mengatakan bahwa alasan pemilihan nama Pierce The Veil berhubungan dengan bagaimana kita bisa melepaskan diri dari masalah yang kita hadapi. “Kalo ada suatu masalah di hidup lo yang mengganggu lo atau menghabiskan banyak waktu lo, kadang-kadang hal terbaik yang bisa lo lakuin adalah dengan dengan memotong sumber masalahnya secara langsung.”

Mendapat dukungan penuh dari Equal Vision, label yang menaungi Before Today sebelumnya, Duo Fuentes ini akhirnya merilis debut dari moniker baru mereka dengan judul A Flair For The Dramatic pada tahun 2007. Hanya dalam hitungan bulan, Pierce The Veil sudah mulai melakukan tur dengan nama-nama seperti A Day To Remember, Chiodos, The Devil Wears Prada sampai All Time Low. Pada jangka waktu itu pula, Tony Perry dan Jaime Preciado akhirnya bergabung dengan mereka. Bisa dibilang, pada masa ini, Pierce The Veil sudah lengkap dan bersiap untuk menulis cerita mereka selanjutnya.

Sebenarnya ada sesuatu yang menarik ketika mereka memutuskan untuk pergi tur dengan band-band lintas genre, mereka seperti ingin menunjukkan bahwa mereka ini tidak terikat pada satu sub-genre tertentu. Kalo kalian mendengarkan musik Pierce The Veil tentu kalian bakal setuju tentang ini, musik mereka itu banyak dipengaruhi oleh banyak hal. Kalian bisa mendengarkan pengaruh post hardcore yang kental di musik mereka, kalian juga tidak akan ketinggalan pengaruh punk yang kuat, terutama dalam beat yang mereka mainkan, dan sesekali kalian bisa mendengarkan pengaruh musik tradisional Mexico, ala Mariachi.

Pengaruh yang begitu beragam ini memang bisa dipahami, fakta pertama yang tidak bisa kalian lupakan adalah Mike dan Vic ini bertumbuh di skena punk rock di Southern California. Daerah ini memang dibilang sangat terkenal dengan pergerakan punk rock yang sudah dimulai sejak tahun 70an. Jika Los Angeles terkenal dengan glam rocknya, South Carolina pada masa itu dipenuhi oleh band-band hardcore punk seperti Black Flag dan Circle Jerks. Sehingga seperti remaja seusia mereka yang dengan mudah terpengaruh oleh berbagai budaya setempat, Mike dan Vic mulai terpapar dengan musik punk rock.

Fakta lain adalah semua anggota Pierce The Veil ini ternyata adalah Mexican-American. Vic Fuentes sendiri bercerita bahwa ayahnya, yang adalah seorang penulis lagu Spanish Jazz adalah sosok yang berjasa dalam mengajarinya bermain gitar dan saudaranya Mike bermain drum. Bisa dibilang itulah perkenalan pertama mereka dengan musik, sehingga secara tidak langsung pengaruh musik Spanish/Mexico yang dibawa oleh sang ayah masih terbawa hingga sekarang. Lagu “Bulls In The Bronx” adalah bukti nyata mengenai hal ini, Vic mengaku bahwa bagian seperti mariachi di lagu tersebut memang asalnya dari sang ayah dan memang sejak lama Vic punya keinginan untuk memasukkan elemen Spanish dalam lagu yang dia tulis.

Langkah tersebut saya rasa sangat inovatif, di saat banyak band post-hardcore lain muncul dengan sound yang nyaris seragam pada masa itu. Pierce The Veil justru hadir dengan musik yang bisa dibilang sedikit ‘berbeda’. Saya rasa justru itulah esensi dari bermusik, pendapat orang itu belakangan, yang terpenting adalah bagaimana kalian berekspresi dengan apapun yang ada di kepala kalian, tanpa berharap cemas tentang bagaimana publik akan menilai nanti. Mungkin jika Vic lebih memikirkan tentang bagaimana memuaskan publik saat itu, Pierce The Veil akan terjebak ke dalam pakem sama yang membuat sebuah band tidak jauh berbeda dari band yang lainnya. Saat semua terdengar sama, justru pada saat itulah originalitas menjadi mahal dan sesuatu yang unik menjadi komoditas mewah yang dicari.

Collide With The Sky sendiri bisa dibilang adalah album terbaik yang pernah ditulis oleh Pierce The Veil dan menempatkan nama Pierce The Veil dalam trajektori yang mengarah kepada pemuncak genre post hardcore. Bisa dibilang kemampuan Pierce The Veil dalam mengeksploitasi sisi lain dari post hardcore masih belum bisa didekati oleh band manapun saat ini. Saya rasa alasan ini diperkuat dengan keberanian mereka dalam bereksperimen dengan memasukkan berbagai macam pengaruh, seperti punk, post-hardcore, mariachi, powerpop dll, sehingga menjadikan sebuah musik yang tidak lagi masuk dalam sub-genre tertentu tetapi seolah-olah menciptakan sub-genre-nya sendiri.

Beberapa waktu yang lalu, Pierce The Veil memperdengarkan dua lagu baru mereka untuk pertama kalinya dengan judul “The Divine Zero” dan “Texas Is Forever” dan saya merasa pengaruh old school sangat kuat, terutama di lagu “Texas Is Forever”. Tentu kita semua berharap Pierce The Veil kembali membuat gebrakan dengan album baru mereka yang akan dirilis 13 Mei 2016 nanti, Misadventure. Harapan saya, semoga saja Pierce The Veil masih tidak takut untuk tidak bermain aman.

About The Author

Martin K.Y

I'd love to talk mostly about music and pro wrestling, sometimes about anime and basketball, come talk.