Identitas mereka dalam bermusik mudah untuk dikenali, tempo musik mereka cepat dan bertenaga seperti pop punk era 2000an awal. The Flins Tone, band asal Surabaya ini baru saja secara resmi merilis album terbaru mereka dengan judul Good News. Album Good News sendiri sebenarnya sudah dirilis untuk pertama kali pada 2015 lalu dengan format cassete dan digital, tapi mereka mengakui bahwa baru pada Maret 2016 kemarin lah mereka secara resmi merilis Good News. Good News sendiri adalah buah kreativitas dari keempat personel The Flins Tone, Kiky, Rudi, Ucup, dan Bimo, bahkan sampai hari ini mereka masih sering takjub ketika mendengarkan album ini.

Sore itu sebuah tempat di Kemang, The Flins Tone sedang bersantai ditemani oleh Izzy (vocalist Humming). Mereka tampak sangat antusias dalam menceritakan berbagai hal, termasuk di antaranya album baru The 1975 yang Bimo (drummer) nilai sangat konseptual. Kiky (vocalist) sendiri mengakui bahwa mereka mempunyai lebih banyak referensi di album Good News ini dan tidak melulu hanya seputar New Found Glory saja. Hal ini menjadikan musik The Flins Tone menjadi lebih berwarna, “Kita dengerin hasilnya sampe detik ini bener-bener masih speechless, kayak kok bisa ya?” kata Kiky tentang album baru Good News.

Pengerjaan album Good News sendiri jelas bukan tanpa halangan, banyak hal-hal yang sempat membuat mereka patah semangat, seperti ketika mereka harus melakukan brainstorming ulang semua lagu The Flins Tone karena harus ditinggal oleh salah satu gitaris mereka. Tapi di balik hal-hal yang sempat membuat mereka patah semangat tersebut, mereka percaya hasil yang menunggu tidak akan mengingkari perjuangan mereka. “Karena kami menyebarkan kabar baik, kami yakin hasilnya pasti juga baik.” Ungkap Kiky.

Memainkan musik yang masih berada di akar punk, The Flins Tone ternyata mendapat dukungan yang sangat luar biasa dari orang-orang terdekat mereka, terutama keluarga. Diakui keluarga adalah sosok paling menginspirasi mereka selama ini. “Ayah sama Ibu benar-benar suportif, selalu tanya kabar tentang band.” Kata Kiky tentang sosok orang tua di balik band The Flins Tone. Mereka ini bukan hanya sebuah band saja, tapi sebuah keluarga besar karena masing-masing personel sudah sangat dekat dan bahkan menganggap orang tua personel lain sebagai orang tua mereka juga.

Rencana besar mereka selanjutnya adalah menyelesaikan Blingstone Voluntour 2016. Proyek ini adalah sebuah proyek kolaborasi antara The Flins Tone dengan Blingsatan sebagai wujud kepedulian mereka terhadap masalah sosial yang ada di Indonesia. Kiky mengatakan sebagai anak muda kita tidak hanya bisa melawan, tetapi harus juga mau untuk menjadi relawan. Tentu ini adalah sebuah semangat yang sangat luhur dan layak untuk dicontoh. Mereka juga tengah mempersiapkan sebuah proyek besar lain, yaitu kolaborasi TFT dengan Blingsatan dalam bentuk album yang diharapkan bisa dirilis tahun ini.

Masih banyak hal yang dibicarakan dengan The Flins Tone, mulai dari kekaguman Kiky pada sosok sahabat kecilnya sampai Billie Joe Armstrong. Untuk lebih lengkapnya kalian bisa membacanya di bawah ini.

Hai, kalian lagi ada acara apa di Jakarta?
Di Jakarta lagi ada promo album baru, kita kasih hashtag buat promo ini #selftour. Hanya untuk media aja sih, radio sama majalah.

Tapi album bukannya rilis 2015 ya?
Kita nyelesain rilisan ini 3 kali, yang pertama cassete tape yang rilis gitaris gue, biar bisa jadi pemanasan. Setelah itu kita ngeluarin rilisan digital, di iTunes kemudian rencana merilis dalam bentuk CD sesudah lebaran. Ternyata ada beberapa kendala yang membuat molor sampai 2016, baru Maret tanggal 11 kemarin kita bisa rilis.

Rilisan resmi?
Untuk resminya, Maret ini sih, cuman untuk spread the Good News-nya sudah dari cassete dirilis. Makannya sekarang kita ngadain #selftour biar kita bisa kenalan sama temen-temen yang belum tau. Dua album sebelumnya kita kayak setengah-setengah, yang Flinsnopsis kan kita kena musibah, almarhum drummer kita nggak ada. Jadi promo ke luar ke Surabaya itu ke-pending banget kan? Terus album tribute buat almarhum itu kita buatnya minim banget, cuman 500 pcs itu habis di Jawa Timur. Kita cuman ambil turnya doang waktu itu. Kalo yang ini (Good News) bener-bener kita persiapin sih, dari tahun 2013 kita sudah siapin sekitar 1000 pcs. Lima ratus buat national, 500 ini kita promo sendiri, kayak media tur. Sisanya kita direct selling.

Seputar Good News, kalo menurut gue Good News itu lebih mateng dan jujur gue suka. Inspirasi kalian dari mana aja sih?
Kiky: “Kalo dari Good News itu sebenernya banyak banget. Kalo dulu dari dua album dulu kita ngeliatnya cuman New Found Glory, Hit The Lights, ambil old school, new school di pop punk doang kan? Kalo di Good News itu kita sudah siapin dua tahun lalu, tetep secara garis besar kita suka New Found Glory. Sisanya gue minta anak-anak buat ngeluarin influence mereka bahkan ketika itu di luar pop punk. Gue sendiri akhirnya nulis lirik kepikiran nggak cuman seperti band pop punk bikin lirik. Gue sendiri jujur suka banget sama liriknya Rocket Rockers. Waktu itu gue sering banget review liriknya. Tapi di album ini gue bener-bener liat kayak Sheila on 7, Tulus kayak “Ini liriknya aneh banget ini.” Gue review lalu gue liat “Oh maksudnya kayak gini kali ya.” Gue pengen ah buat yang kayak gini dengan gaya Flins Tone di musik pop punk. Bimo sendiri referensinya nambah. Dia masukin referensi dari Foo Fighters, apa lagi Bim?”

Bimo: “Macem-macem sih, jadi emang waktu lagi ngerjain. Kita berempat mikir buat nyari referensi di luar pop punk sih. Kalo pop punk sih kayaknya kita bikin lagu apa aja bakal jadi pop punk. Jadi kita nyari referensi lain biar jadinya nggak terlalu terlihat pop punk walau benang merahnya tetep pop punk.”

Kiky: “Bahkan kita ada inspirasi dari band seperti Alexisonfire, Story of The Year, The Used. Dari petikan bassist kita juga. Dia suka banget kan emo gitu? Kita bilang, “Itu sah-sah aja, lo mau nggak masukin?”. Dia liat gue nyanyi terus dia bilang ke gue, “Lo bisa nggak buat lebih serak kayak tendangan suaranya Dan Marsala (Story of The Year).” Si Rudi referensinya musiknya juga balik ke rock 90an, Smashing Pumpkin bisa diaduk di sini.”

Bimo: “Death metal juga denger dia.”

Kiky: “Death metal juga denger, di album ini pintunya bener-bener dibuka selebar-lebarnya tapi jangan lupa rumahnya tetep pop punk ini. Masukin ae, nanti dijus bareng tapi diminumnya ala Flins Tone. Jadi ini pop punk ala Flins Tone. Nggak ada yang maksa, “Eh ini gue punya materi ini, wah ini nggak New Found Glory nih.” Nggak kayak gitu, Bimo masukin ketukan yang beda, Ucup usul, “Eh masukin beat-beat gini dong.” Bahkan sampe kayak The Story So Far, Neck Deep gue dengerin. Untuk referensi.”

Di Good News kalian menemukan diri kalian sebagai Flins Tone?
Jelas banget, dari Flinsnopsis jauh banget. Kita waktu itu masih berlima, gue jujur kita masih cari perhatian orang, bahwa inilah Flins Tone untuk didengarkan, bukan ini Flins Tone kita. Jadi kayak biar orang tau, “Flins Tone itu musiknya melodic punk lho”. Melodic punk yang gimana? Bingung jawabnya, gue suka NFG, gitaris gue belum tentu suka NFG. Waktu itu gue bersikeras, gue suka NFG gue pengen kita didengar orang kayak NFG. Itu jadi pembelajaran kita, si Rudi mulai memasukkan kayak, “Nggak bisa kalo lo pengen kayak NFG, album kita bakal jadi kayak Flinsnopsis terus.”. Mulai dari itu, mungkin nggak jauh dari NFG tapi kita mulai masukin kayak Hit The Lights, kita mulai eksplor. Sampe akhirnya lepas album tribut, Bimo masuk kita kayak bener-bener “Kita nggak bisa ini main musik harus terdengar seperti ini, Flins Tone adalah Flins Tone.” Jadi apakah Good News ini menunjukan identitas kita, ya inilah The Flins Tone. Kita berempat, orang dengerin album, gue yakin mereka udah terbayang The Flins Tone dengan anggota berempat. Gue sama anak-anak lain bisa bertanggung jawab dengan apa yang kami sajikan waktu live. Jadi ya ini, kalo lo mau liat Flins Tone, lo dateng ke acara kita. Kalo lo mau dengerin, beli albumnya. Perbedaan itu bisa lo liat waktu kita manggung, sama lo dengerin kita di keseharian lo.

Gue setuju, sebuah band emang perlu punya karakter. Banyak band bagus tapi ternyata punya sound yang mirip. Menurut gue, band yang bakal dikenang itu adalah band yang mempunyai karakter mereka sendiri. Inilah Filns Tone?
Kalo di album Good News ini, kita pede banget inilah Flins Tone.

Waktu kalian membuat Good News ini, kalian sempet ngerasa takut nggak sih? Semacam keluar dari zona nyaman. Dari Flinsnopsis, kalian memutuskan untuk tampil dengan musik yang lebih bervariasi. Kalian sempat takut ini justru bakal nggak kayak Flins Tone?
Bimo: “Takut sih nggak, kita pengen keluar dari zona nyaman biar ada perkembangan juga. Kita dari kemarin pengen nantang diri kita sendiri, bisa nggak kita bikin yang beda banget dari yang sebelumnya. Kalo dari hasilnya kita puas banget sih.”

Kiky: “Ya dari segi sound, segi materi. Awalnya kalo dibilang takut, bukan takut juga sih. Tapi kita punya banyak pertanyaan. “Ini yakin ini kita bakal eksplor sampe ini?” Sampe kita dengerin hal-hal yang di luar zona nyaman kita untuk dijadikan referensi di album ini. Tapi gue balik lagi, ini rumah gue, ini keluarga gue ya ngapain gue mesti takut kalo di rumah gue. Jadi gue bilang sama anak-anak, “Yakin?” Mereka yakin, yang jelas mereka nggak pernah maksain gue buat nyanyi kayak referensi mereka. Lo nyanyi-nyanyi aja, lo main gitar dengan referensi lo sendiri, lo main bass dengan gaya sendiri lo main drum dengan referensi lo sendiri, pasti nanti ketemu Flins Tone deh. Jadi awalnya adalah kita punya banyak pertanyaan. Tapi Alhamdulillah seperti kata Bimo, kami sangat puas dengan album ini.”


Tentang video kalian “Stagnasi” Bagaimana proses pencarian ide tersebut?
Kiky: “Kalo tentang idenya, kita balik lagi ke album ini sendiri. Menurut kita ini adalah kepuasan yang paling gila. Semua di album ini there is no box, kalo out of the box berarti masih ada box dong. Nah kita lakuin, there’s no box. Kebetulan yang buat konsep videonya manajer kita sendiri.”

Aswin: “Pertama yang kita lakuin eksplorasi lirik dulu, jadi “Stagnasi” ini ceritanya tentang apa. Dari hasil brainstorming kita, lagu ini tentang kritik. Jadi mengkritik orang-orang yang kadang-kadang mereka suka nyalahin orang lain, termasuk kita juga kena kritik sendiri. Dalam satu permasalahan, kadang-kadang kita nggak ngeliat diri kita sendiri. Visualisasinya adalah keadaan macet, di situ kadang-kadang ada orang yang update, selfie, ada yang marah-marah juga, saling menyalahkan, ada yang tidur. Makannya di poin akhir kita kembaliin lagi sebenarnya permasalahannya itu ada di kalian sendiri, kalian bagian dari masalah itu sendiri.”

Jadi maunya kita nyalahin orang, tapi nggak mau ngelihat ke dalam gitu ya?
Bimo: “Iya padahal kita bagian dari masalahnya.”

Aswin: “Jadi di awal itu si Kiki marah kan, dia marah apaan ini macet. Setelah dicari apa permasalahannya ternyata mereka sendiri masalahnya.”

Kiky: “Biang kesalahannya adalah band Flins Tone itu sendiri.”

Itu di jalan tol baru ya?
Iya, habis kita shooting, baru dibuka. Awalnya mau ambil heritage Surabaya sih. Kayak kita ngambil Car Free Day Surabaya, kita ngambil macetnya di Car Free Day. Tapi kok kayaknya nggak memungkinkan, takutnya banyak yang bocor. Kayak kesannya kita lagi ditontonin, macet masa ditontonin sih. Akhirnya Aswin dan timnya dapat di tol itu dengan segala macam perjuangan. Karena kemacetan itu sebenarnya nggak bisa diseting kan ya?

Bagaimana proses dapat ijinnya?
Aswin: “Kita presentasi ke banyak tempat sebetulnya, jadi kita ditolak juga ngalamin. Banyak orang-orang yang ngeliat, “Ini produksinya mahal nih.” Kalo kita sebut nominal, pasti lo bakal bilang, “Gila lo cuma habis segitu bisa bikin video klip kayak gini?” Itu nggak masuk akal sebenernya, itu balik lagi ke kerja keras tim kita sampe kita bisa ngumpulin mobil sebanyak itu dengan sukarela.  Akhirnya video klip itu bisa jadi, ya karena kerja keras.”

Kiky: “Gue juga di luar ekspektasi sih bisa jadi kayak gitu, buset. Awalnya gue bilang gini nih, “Kan kita ngeluarin tiga single nih, “Stagnasi”, “Roots”, “Suatu Saat Nanti”. Anak-anak bilang, single pertamamu aja mas yang kita kejar. Aswin juga bilang, single pertama aja yang dipromoin, baik itu lewat media sosial, radio, bahkan visual, artinya video klip kan. Akhirnya “Stagnasi”, konsepnya gimana? Ya itu brainstorming. Gue bilang “Gue kesel sama kota Surabaya” gue cerita gini kan gue kesel sama orang lain ya? Padahal gue juga naik motor masih sembarangan. Kebetulan Aswin punya tim yang otaknya nggak sabar banget (buat bikin karya), dia punya ide gini dihajar. Gue kayak, “Kok bisa ya.”

Orang gila yang menjadi satu?
Orang gila yang menjadi satu, jadinya jenius.

Bisa dibilang ada jeda setahun dengan rilisan pertama kalian (kaset). Ada perubahan persepsi sewaktu kalian mendengarkan album untuk pertama kalinya dengan sekarang?
Kita dengerin hasilnya sampe detik ini bener-bener masih speechless. Kayak “Kok bisa ya bikin kayak gini.” Paling yang kita ganti persepsinya, bagaimana cara bertanggung jawab waktu kita live. Orang dengerin udah amazed, waktu kita manggung harusnya orang lebih amazed. Bahkan mereka mau jauh-jauh beli tiket untuk nonton kita. Istilahnya kayak, “Lo dateng ke acara kita, gue kasih lebih.”. Alhamdulillah, karena tingkat kepuasan kita terhadap album ini cukup baik. Waktu kita nyajiin ulang, kita mikir apa yang mau kita kasih ke mereka. Kita diskusiin ke manajemen, besok kita manggung mau ditambahin apa ini.

Berarti kira-kira, atmosfer apa yang pengen kalian komunikasikan?
Kita pengen ngebentuk sebuah live show yang bener-bener TFT jaman Good News. Tapi detailnya belum bisa dikasih tau.

Berarti bisa dibilang kalian ingin bilang “Experience The Flins Tone”?
Iya rasakanlah Flins Tone kalian sendiri.

Berbicara mengenai featuring, kalian mengajak vokalis tamu.
Iya, lagu “Forget Me In Vegas” sama “Early Morning” guest vocalnya sama. Ada temen dari Surabaya namanya Putri, dia punya band namanya Ignore. Udah kenal lama banget, udah kayak saudara sama anak-anak. Kita minta tolong, gimana kalo ngisi suara dengan karakter yang berbeda. Kalo di album Flinsnopsis kita ngajak Saka (Blingsatan), terus kalo album tribut kita ngajak mas Aditya Kurniawan (Snickers and the Chicken Fighter). Kan kesannya Flins Tone selalu ngajak musisi buat featuring, buat kita udah cukup tuh, itu zona nyaman kita begitu kan? Biar orang-orang ngeliat, besok featuring sama siapa kita lagi ini? Ternyata mereka bisa, “Oh nggak gitu tu di album ini.” Kita featuring pasti, tapi bukan menjadi gimmick yang harus dengan musisi ini. Kita ngajak kerja bareng sih, bukan karena Putri cewek, berarti dia harus nyanyi di lagu yang kalem. Gue paksa dia dengan dua lagu yang beda banget, “Forget Me In Vegas” lagunya kalem, sementara di “Early Morning” dia teriak-teriak kayak female hardcore vocalist lagi nyanyi, dan itu berhasil.

Bagian Putri kalian buat atau dia mengisi sendiri?
Kalo di “Forget Me Vegas” bantu brainstorming, kalo “Early Morning” memang sudah kita siapin. Tapi dia tetep bisa eksplor.

Kalian punya lagu jagoan di Good News?
Bimo:
“Lagu favorit “Early Morning” sih kayaknya. Itu kayaknya lagu pertama yang paling jadi banget deh.”

Kiki: “Gue pribadi, semua favorit karena semuanya kita brainstorming bareng-bareng. Cuman kalo yang paling gue suka, “Stagnasi” sih, sama “Early Morning”, sama yang terakhir itu “16 Dramaturgi” karena itu eksplornya gila-gilaan. Gue buat nulis lirik itu agak sedikit butuh waktu yang lama, gue sampe baca review film, cari istilah film. Gue cari di Google kayak “Review bedah scenario” dan segala macem. Tulisan scenario itu kan kata-katanya nggak biasa kita pake kan? Gue lingkari, terus gue mikir ini cocok nggak ya masukin sini. Padahal 16 Dramaturgi itu intinya gue cuman pengen ngomong, “Eh gue kagum sama lu”. Gue bisa aja kan nulis judulnya “Kekagumanku Padamu” atau apa kan ya? Gue sendiri kadang mikir, ini gue ngomong apa sih. Anak-anak waktu recording nanya, “Mas ini judul lagunya apa?” Gue bilang “16 Dramaturgi”. Anak-anak langsung pada “Ha? Ngomong apa lo barusan?”.”

Itu judul keluar secara impulsive atau emang sudah dipersiapkan?
Emang udah kepikiran sih, jadi objek ini gue istilahin 16. Enam belas itu hari ulang tahun dia. Gue punya sahabat kecil di Jakarta, temen gue sekolah. Dia sering sharing sama gue gitu, “Eh gimana band lo?” Gue bilang band gue udah gini, gini, dia jawab “Gue juga nggak kalah kali, gue juga tur.” Jadi tur dia itu tur mendongeng ke anak-anak jalanan, sampe ke luar pulau, dia ngajar. Jadi waktu SMA kita kepisah, kuliah gue balik ke Jakarta dia balik ke sini kan? Nah kita sharing, kekaguman gue ke sosok dia itu makin menjadi-jadi. Gue pengen ngerangkum dalam sebuah lagu dan gue persembahkan ke dia, “Thank you banget udah ngisi masa kecil gue, dengan candaan dulu waktu kecil sampe kepisah nggak ada kabar. Kita ketemu lagi dan gue kagum banget sama dia, misalnya “Lo ini anak mampu, tapi lo selalu mau naik angkutan umum.” Dia struggle banget anaknya. Akhirnya gue mengungkapkan kekaguman gue dengan dramaturgi, dramaturgi kan kalo dalam film kayak naik turun cerita hidup gitu kan? Kayak berantem sama cewek, seneng, jadian, putus, eh jadian lagi terus nikah. Nah sama, yang gue alami dari gue masih kecil sampai dia punya anak terus tur keliling mendongeng itu. Makannya di reff-nya “Intonasikan nadamu dan jelaskanlah” maksudnya waktu dia mendongeng. Kalau gue liat video dia, itu bener-bener gila, kayak dia bener-bener mencintai setiap anak didiknya itu.

Kalian tertarik sama kegiatan philanthropy gitu?
Tertarik banget, jadi kita selain #selftour kita lagi jalanin tur juga di Jawa Timur bareng Blingsatan. Kita kolaborasi dengan nama tur The Blingstone Voluntour 2016, jadi kita kayak mengedukasi diri kita sendiri, untuk kayak gini, “Kita anak muda bisanya cuman relawan.” Dengan tur ini kita ingin bilang, “Anak muda itu nggak cuman melawan tapi juga harus mau jadi relawan.”. Itu jalan sekitar 5 kota, pertama kemarin Alhamdulillah di Surabaya 17 April pecah banget, tanggal 1 besok Insya Allah di Kediri, tanggal  21 kita di Ponorogo, setelah itu antara Malang dulu atau Gresik dulu. The Blingstone ini proyek sampe akhir tahun sih.

Idenya dimulai dari siapa ini?
Bareng-bareng sih, waktu itu kita lagi satu stage dari sebuah radio di Surabaya. Waktu itu ada acara Punk Wars, maen akustik di acara live radio. Waktu itu kita ngomong, isunya kita lempar sekalian aja, The Blingstone gitu. Anak-anak pada “Wah keren tuh”. Kelar acara dari pihak radio ngomong, ini acara radio akustik paling pecah waktu kalian, mungkin isunya gila-gilaan sih, buat pop punk gathering. Padahal gathering kan cuman ngobrol-ngobrol aja, akhirnya temen-temen request. Ayo dong ini dilanjutin, akhirnya kita bikin tur sampe akhir 2016. Kita mau bikin album juga sih, 7 orang satu band gitu, The Blingstone. Yang jelas akan ada surprise.

Belum bisa dibocorin ya? Tujuh orang banyak banget itu.
Belum, lagi direcap semuanya dulu. Jadi akan ada dua vokal, dua drummer. Singlenya pasti akan kita umumin secepatnya, Insya Allah tahun ini.

Pembicaraan kemudian kami lanjutkan di dalam mobil karena saat itu anak-anak The Flins Tone harus berada di Oz Radio.

Pengalaman Good News?
Mulai dari waktu masuk recording, habis tur 2014 keliling Jawa The Flins Tone masuk rekaman ternyata gitaris kita ada yang cabut. Mau nggak mau, kelar tur itu kita harus brainstorming ulang album ini. Kalo ada yang satu resign dan kita tetap memaksakan konsep awal kita yang berlima, takutnya waktu kita live kesannya kayak “Kok berempat sih?”. Jadi kita ada workshop, membedah ulang sepuluh lagu lagi. Itu kan istilahnya sempat bikin kita drop kan? Aduh gimana ya, tapi setelah dua minggu lewat “Oke beres ya?”. Pengalaman seru lainnya, kita kan dikasih blok recording satu bulan, itu udah ada jadwal kan itu. Ternyata waktu kita recording, hari pertama si Bimo udah nyelesein sepuluh lagu. Jadi jadwal sedikit berantakan, kecepetan kan? Waktunya jadi semakin banyak buat kita mikirin mau ditambahin apa lagi. Ternyata si Ucup ngerekam bass juga cepet banget, sepuluh lagu diselesain dua hari. Paling mas Rudi yang ngikutin jam kerja, jadi dia ngambilnya dibuat aman aja, jadi kayak ngambil 4 jam setiap hari habis kelar kerja. Gue waktu itu juga kerja, tapi Alhamdulillah gue ngerjain vokalnya dalam waktu 3 minggu. Tiga minggu itu dalam artian gini, seminggu gue kasih vokal A, seminggu vokal B, seminggu vokal C. Anak-anak suruh milih. Waktu seperti itu (buat memilih) lebih banyak, jadi lebih detail. Proses mixing masternya juga butuh waktu 7-8 bulan, pengerjaannya bisa dibilang gokil banget sih. Jadi mulai dari personel yang tiba-tiba berempat, workshop ulang, penuh dengan perjuangan deh. Manajer gue cabut kan mau nikah, jadi manajemen nggak ada yang mau ngurusin. Tapi kita yakin, kita mau menyebarkan berita baik, hasilnya juga pasti good.

Mengenai detail, berarti banyak banget materi yang kalian rekam dong?
Untuk recording standar sih sebenernya, cuman karena Bimo cepet banget dalam mengerjakan tanggung jawabnya jadi kita banyak banget waktu buat brainstorming, kayak “Lagunya enaknya dibuat gini nih.” Itu bisa terjadi di studio tanpa terburu-buru.

Kalian punya sosok yang menginspirasi kalian?
Kiky: “Itu jelas keluarga, karena ayah sama ibu bener-bener support main musik. Selalu tanya update tentang band, orang tua lain juga gitu, kita kan saling mengenal. Jadi pengaruh yang bikin kita bisa bermain musik sampai detik ini adalah dukungan dari orang tua.”

Bimo: “Keluarga dan Dave Grohl. Dave Grohl juga keluarga.”

Tidak ada hambatan dari keluarga? Apalagi kalian main pop punk? Di Indonesia band pop punk yang hidup dari musik paling hitungan jari doang ya? Kalian nggak ngalamin hambatan? Justru keluarga optimis?
Optimis banget, karena setiap kita punya lagu, kita rekam, preview yang kita kasih pasti ke orang tua.

Mereka juga dengar?
Mereka denger, mereka ngerasa kayak “Wah enak banget ini lagunya.” Walaupun mereka tidak terlalu tau ya musik yang kami mainin. Mereka menganggap itu musik yang enak buat didenger oleh mereka. Itu gue anggap seperti doa aja sih, kayak “Wah orang tua gue suka nih, gue yakin semua orang yang mendengarkan pasti juga senang seperti orang tua gue.”

Mereka pernah ngasih masukan?
Paling masukannya kayak “Kalo manggung dibawain dong”.

Mereka pernah ikut kalian manggung?
Belum sih, gue pengen banget sih someday orang tua kita semua dateng, entah ada di backstage atau front row ngelihat kita. Orang tuanya Bimo pernah, waktu itu lagi jalan-jalan sekeluarga, kita lagi ada acara brand gitu kan di mall, ibunya Bimo sama kakak-kakaknya pada nonton, buat kita itu semangat tambahan banget.

Berbicara mengenai musik pop Indonesia, kalian ngikutin?
Kiky: “Gue ngikutin, kayak Gigi gue suka.”

Kebanyakan band lama?
Band lama, karena jujur semakin ke sini kesannya banyak yang bermain musik karena ada sesuatu yang dikejar bukan karena jiwa seni sih. Sheila on 7 gue masih ngikutin.

Lucunya ketika kami membicarakan band-band awal 2000an, lagu yang diputar di radio mobil adalah lagu milik La Luna “Selepas Kau Pergi”

Menurut kalian bagaimana perkembangan industri musik di Indonesia?
Kalo industri sempat mungkin mengalami sedikit kemunduran, boleh lah kita referensi musik luar. Bagus banget malahan, tapi kalo cuman ngikutin musim, bertahannya berapa lama doang sih. Tapi kalo 2015 akhir, peningkatannya cukup oke banget sih.

Barasuara?
Nah Barasuara itu kan keren banget kan, bisa dinikmati secara umum.

Ini jadi kayak momentum kalo musik indie itu bisa dinikmati secara umum
Iya pada akhirnya

Kalian berencana memanfaatkan momentum ini?
Secara nggak langsung sih iya, tapi bukan sesuatu yang kita kejar. Kita tetep main musik, pergi tur, bikin album sebanyak-banyaknya. Kalo cuman ngikutin momentum sih entar kalo nggak dapet kita bisa stuck kan? Kayak “Ah nggak dapet ini momennya.”. Kalo momentum itu secara nggak langsung bakal ngikut kalo kita tetap aktif.

Pendapat kalian tentang Destroy Pop Punk-nya Billie Joe?
Kiky: “Gue sempet membahas ini bareng Bimo sih.”

Bimo: “Itu gimmick doang sih kayaknya.”

Kiky: “Gue rasa nggak ada masalah sih, Billie Joe memusuhin pop punk juga nggak kayanya. Maksud gue, kita orang Indonesia nyari arti negatif lebih cepet kali ya? Mungkin maksud Billie Joe nggak kayak gitu. Mungkin Billie Joe punya edukasi baru lewat Green Day.”

Inilah pop punk menurut Green Day?
Mungkin itu keresahannya dia kali ya.

Pembicaraan ini kemudian diakhiri dengan ngomongin Billie Joe Armstrong.

About The Author

Martin K.Y

I'd love to talk mostly about music and pro wrestling, sometimes about anime and basketball, come talk.