Review: Hulica - Demo EP
8Score

Berbicara ranah math rock dan wilayah sekitarnya (Skramz, Midwest, Experimental, dll) mungkin kita berbicara eksplorasi musik yang mendalam. Saya bukan seorang penikmat sejati math rock, skramz, ataupun midwest (maaf…). Tapi saya dengar jenis-jenis musik itu, ada beberapa hal yang membuat saya tertarik kepada apa yang ditunjukkan oleh beberapa aliran yang disebutkan tadi. Lirik dan pendalaman, tidak semua  memang tapi sebagian dari beberapa musisi yang membawakan aliran tersebut mampu membuat saya tertarik untuk mendengarnya, mengeksplor jauh lebih ke dalam apa yang mereka ingin sampaikan.

Di Jepang sana, The Cabs mungkin contoh bagus dari skena tersebut yang mampu membuat kuping saya terbawa kepada alam relaksasi. Setidaknya kalau saya bisa mengantuk dan tertidur ketika saya mendengarkan sebuah lagu itu berarti saya sudah berada di puncak kenikmatan mendengarkan sebuah lagu, and The Cabs can do it! Maka dari itu saya ingatkan bahwa tidak semua kalangan bisa nyaman mendengarkan lagu-lagu  math rock, skramz, ataupun Midwest. Ada semacam dark unsure yang akan sulit dipahami oleh telinga-telinga awam (maaf lagi…).

Hulica Demo EPTracklist:
1. Pokemon Hype Club
2. Axonica’s House

Baiklah, kali ini saya ingin membahas Hulica , apa itu Hulica ? Hulica adalah satu unit baru math rock, skramz, (menurut pandangan saya mereka berada di dua wilayah itu) dari Bandung. Mereka merupakan kesatuan dari Dimaz Ramadhan Putra (Guitar dan Vokalis) , Djodi Fauzan Rahman (Bass dan Vokalis), dan Erwin Zakaria (Guitar). Tak asing dengan nama-nama personilnya ? silahkan googling The Verlived Orchestra dan The Maiam sebagai info ekstra (budayakan googling dan membaca).

Pertengahan September lalu mereka merilis sebuah demo EP dan coba disebarluaskan supaya jadi topik perbincangan melalui situs Bandcamp dan juga soundcloud mereka. Seperti biasa, saya tipikal orang yang segala sesuatunya kurang up to date, even jika ada sebuah band yang merilis sesuatu yang baru. Yap saya telat mendengarkan lagu-lagu Hulica, padahal hampir beberapa minggu rilis saat itu. Dan lebih lucunya lagi, saya baru bisa kasih review sekarang (ini Desember) yes, my middle name is “Lazy”. Untung saya tidak kecewa dengan rilisan mereka, ada sesuatu yang indah yang berani mereka tunjukkan dari segi lirik, musikalitas, dan pemilihan judul lagu. Correct if i’m wrong, but totally mereka sukses bikin sebuah judul lagu yang menggelitik sekaligus berpotensi menggaet fans.

Track pembukanya diberi judul “Pokemon Hyper (Hype) Club”. Iya ada kata “Pokemon”!!. Terima kasih kepada Hulica telah membuat judul yang sebegitu indah dilihat, membuat tiap mata terpesona (minimal penasaran) untuk mengklik “play” button pada laman soundloud kalian dan akhirnya mencoba mendengar lagu kalian. Kesan pertama yang saya tangkap dari track pembuka ini adalah melodius, minimalis, suara drum yang terasa renyah, tempo yang naik turun ala-ala midwest, tapi tetap mudah dicerna.

Kombinasi gitar Dimas dan Erwin bisa saling mengisi secara baik dan menampilkan kesan math rock yang tidak rumit. Liriknya ? well sampai tulisan ini saya buat, jujur saya tidak melihat korelasi antara judul dan isi lirik. Hanya merekalah mungkin yang mengerti atau saya yang belum mengerti. Tapi untuk gebrakan pembuka pada EP ini, “Pokemon Hype Club” (untuk selanjutnya PHC saja ya) sukses memberikan nuansa awal yang apik (kacau).

Track kedua adalah “Axonica’s House”, oke ini favorit saya dari segi lirik dan orisinalitas musik. Saya kutip sedikit petikan liriknya “I’m hiding behind the twisted truth/ I’m playing perspective/ I wish this was a straight line”, love that lyrics. Sedikit menggambarkan kehidupan saya (tidak penting), dan konsep lagunya yang jauh lebih sederhana (aneh) namun jauh lebih kacau (nyeleneh) dari PHC membuat saya menobatkan track kedua ini menjadi track favorit. “Axonica’s House” menunjukkan segala kekacauan dalam ritme, riff gitar, dan sentuhan drum over minimalis yang ke depannya bisa menjadi ciri khas Hulica. Dimas dan Erwin memainkan porsi gitarnya di lagu ini terkesan serampangan dan tak terkontrol, tapi di situ naturalnya.

Biarkan mengalun di telinga maka dunianya akan terbentuk sendiri. Kalau mendengar lagu-lagu math rock atau midwest, tempo kadang menjadi sesuatu yang tidak terperhatikan. Sadar tidak sadar band-band yang bermain di ranah itu justru menciptakan standar sendiri dan Hulica merepresentasikannya secara baik lewat “Axonica’s House”. Ini menurut saya sisi Hulica yang harus lebih dieksplore. Mereka mau menonjolkan sisi yang berbeda tanpa takut kritik, track kedua sangat layak menggambarkan karakter mereka atau mungkin cikal bakal karakter mereka ke depan.

Jadi saya bisa katakan rilisan perdana mereka cukup menggebrak. Bila mau disebut sebagai pijakan awal berarti materi dalam rilisan ini sudahlah cukup. Hulica memainkan sesuatu yang sederhana namun tetap mendapatkan kesan “berantakan”. Paduan lirik dan sentuhan unsur math rock tersaji cukup baik, saya katakan mereka menampilkan unsur kecil dari math rock secara minimalis.

Kita akan menemukan sesuatu yang timpang antara track pembuka (PHC) dan diakhiri dengan “Axonica’s House”, dibawa beremosi riang di PHC dan seakan masuk ke ruangan gelap di axonica’s. Kredit patut diberikan kepada para personilnya yang mampu menanggalkan karakter masing-masing dari proyek terdahulunya, artinya mereka tidak terbawa warna musik yang sebelumnya mereka tunjukan. Sebuah eksplorasi yang menarik dan tak berbatas dari Hulica. Kemana mereka akan bawa kita selanjutnya?

Go listen: “Axonica’s House”

 

Tulisan ini ditulis oleh Ferandi R Pradana seorang penikmat musik (katanya). Beredar secara tidak penting di IG @radityaferandi dan twitter @RadityaFerandy

About The Author

Redaksi

Backstage Whisp (http://backstagewhisp.com/) adalah media online musik alternatif berbahasa Indonesia. Informasi lebih lanjut silahkan menghubungi kami di [email protected]

Share
Tweet
+1