Review: Beeswax - Growing Up Late
7.3Score

Mungkin album debut penganut indie rock/emo asal kota Malang ini sudah cukup banyak mendapat pujian dan dibahas dimana-mana. Hal tersebut jujur membuat saya sedikit bingung, “Apa lagi yang mau dibahas?”. Berbicara tentang Beeswax, nama ini cukup fenomenal dan sepertinya memang sangat panas, paling tidak di kota mereka sendiri Malang. Saya sendiri sempat berasumsi jika ada rilisan lokal yang memiliki potensi untuk menjadi sangat esensial dalam lingkup emo mid 90’s di Indonesia, album Beeswax yang ini boleh masuk dalam hitungan.

Album debut mereka berjudul Grow Up Late dan dirilis oleh Barongsai Records. Sebuah judul yang membuat saya langsung ingat kepada quote kekinian asal luar negeri, growing up sucks. Berbicara mengenai ‘growing up’, frase tersebut cukup sering dijadikan tema, baik itu literatur, film, maupun musik. Sebuah tema yang overused kalo boleh saya dibilang, sehingga sebelum melihat maupun mendengar isi dari karya seni tersebut kita biasanya memiliki tendensi untuk langsung menebak apa yang akan disampaikan.

Growing Up LateTracklist:
1. Escape The Truth
2. Buried
3. The Most Pathetic One On Planet
4. Mineral
5. Blood
6. Take Me Home
7. Start The Line Break It All
8. Ancient Post
9. Graduation
10. Maybe We’re Not In Parallel Universe Anymore

Tantangan terbesar dalam mengeksploitasi tema yang sedemikian sering diangkat jelas tinggi. Ada beberapa pilihan dalam melakukan itu, seperti menggunakan cara yang sedikit berbeda atau membawakannya dengan elegan. Tentu dua hal tersebut hanyalah sebagian kecil dari banyak metode yang bisa digunakan, tapi satu hal yang bisa kita amini saat ini adalah semua orang pernah bertumbuh. Menjadikan tema ‘growing up’ ini menjadi sangat relatable dan saya kira Beeswax cukup cerdas dalam memilih serta mengeksploitasi tema ini.

Sebelum mulai membahas album ini secara keseluruhan, saya ingin menuangkan sedikit opini saya terkait ‘growing up late’. Terlepas dari konten album milik Beeswax, ‘growing up late’ bagi saya adalah sebuah fase dimana kita menolak untuk melepaskan kesenangan di masa muda untuk menjadi tua. Menjadi tua sering diartikan sebagai sebuah tragedi, mungkin itu pula yang akhirnya menjawab kenapa ada kalimat berjudul growing up sucks.

Ide untuk melarikan diri dari tuntutan untuk menjadi orang dewasa kemudian tumbuh dan sejujurnya pelarian tersebut terdengar lebih menyenangkan. Sedikit demi sedikit akhirnya terpugar sebuah prinsip “I don’t want to be an adult.”. Tak dipungkiri, masa muda adalah sebuah waktu dimana kita merasakan jatuh cinta dan patah hati untuk pertama kalinya sehingga masa tersebut begitu berkesan. Dengan menggunakan pendekatan tersebut, saya merasa growing up late adalah sebuah pernyataan diri untuk merayakan apa yang telah terjadi di masa muda kita, baik sesuatu yang buruk maupun menyenangkan. Menggunakan pendekatan itu pula akhirnya saya mendengarkan album ini dan hasilnya ternyata tidak mengecewakan.

Album ini dibuka dengan sebuah riff khas indie rock yang memikat dan kemudian disambung dengan lirik “It’s hard things to say /  Can we go through this way / While we keep trying / Can we go through this way” secara berulang-ulang. Bagian tersebut terdengar seperti sebuah usaha untuk membangun mood dan peletakan dasar penting yang akan menjadi pusat dari keseluruhan isi album. Ketika kita mendengarkan lagu kedua, kita akan memahami bahwa ada sebuah cerita yang sedang dibangun di sini, sebuah cerita yang dibangun di atas sebuah mood yang cukup kelam.

Hal tersebut sekaligus menjadi daya tarik utama dari album ini karena Beeswax telah berhasil dalam mengkomunikasikan cerita mereka dengan cara yang tak murahan. Mereka seperti ingin membawa kita untuk turut serta dalam merasakan apa yang mereka alami. Jika kita mengikuti album ini dari awal hingga akhir, kita akan sadar bahwa cerita mereka penuh kebimbangan-penenangan diri-kembali merasakan keragu-raguan-sempat ingin menyerah-menyalahkan diri sendiri-kembali ragu sampai akhirnya mencapai klimaks yang untungnya dapat disebut sebagai happy ending. Walaupun pertanyaan di akhir album justru membuka banyak kemungkinan baru yang bisa saja lebih menyakitkan. Dapat dikatakan album ini seperti sebuah perjalanan roller coaster, yang akhirnya membuat kita penasaran dengan cerita apa yang akan disuguhkan selanjutnya.

Selain tema album, departemen instrumen di Growing Up Late adalah salah satu hal yang saya sukai. Masing-masing personel tahu apa yang mesti dilakukan dengan instrumen mereka, tanpa berusaha mengambil spotlight yang lebih banyak dari instrumen lain. Dalam beberapa bagian, kita juga dapat mendengar mereka tengah kerasukan Mike Kinsella dengan struktur yang sedikit sulit dinalar, tak tertebak, tanpa kehilangan kewarasan dan tetap masuk akal. Bagi saya pribadi, menit 1:15 dari lagu “The Most Pathetic One On Planet” adalah salah satu bagian terbaik di album ini yang mampu menjelaskan alasan saya di kalimat sebelumnya.

Album ini adalah tentang mood building, termasuk bagaimana mereka menggunakan instrumen yang tersedia sebagai sarana untuk mencapai tujuan mereka dalam penciptaan mood. Instrumen di album ini adalah background yang menjadi landasan dari cerita yang ingin disampaikan. Sebagai contoh, jangly guitar yang mereka mainkan di lagu seperti “Bleed” maupun “Take Me Home” jelas tidak ditujukan untuk lirik yang ceria, tapi sebagai latar dari cerita yang cukup menggetarkan dan dari beberapa bagian yang mereka tawarkan, bisa dikatakan semuanya koheren terhadap satu sama lain. Termasuk ketika mereka memutuskan untuk merekam vokal dengan gain yang cukup rendah, semuanya adalah tentang penciptaan mood yang mendukung proses story telling.

Jika kalian tidak tertarik dengan isi cerita di album ini, kalian boleh mendengarkan musiknya saja. Walaupun rasanya hampir mustahil untuk menolak ajakan dalam menyelami lirik di album ini begitu kalian mendengarkan album ini. Musik di album ini mengalun dengan lembut, twinkly guitar yang saling berbenturan, seperti sedang berdansa, menciptakan ilusi bahwa memori manusia memang indah. Sampai akhirnya kita berbenturan dengan mimpi buruk yang bernama kenyataan.

Akhirnya, Jika kalian mengantisipasi sebuah album yang berlandaskan pop-ish hook menunggu untuk dinyanyikan di setiap detiknya, mungkin album ini bukanlah untuk kalian. Album ini perlu waktu untuk bertumbuh, namun saat waktu tersebut datang kita akan mulai dapat mengapresiasi album ini, termasuk apa yang coba disampaikan oleh album ini.

Grow up late bukanlah sesuatu yang buruk hanya karena kita tidak mau menjadi dewasa seperti pada umumnya. Grow up late adalah tentang memaknai setiap peristiwa yang telah terjadi untuk mendapatkan perspektif baru yang kemudian memberi keberanian pada kita untuk berkata “It’s okay to be sad”. Akhirnya album ini seperti sebuah ketelanjangan, murni dan otentik.

Go listen: “The Most Pathetic One On Planet”, “Take Me Home”, “Start The Line Break It All”

About The Author

Martin K.Y

I’d love to talk mostly about music and pro wrestling, sometimes about anime and basketball, come talk.

Share
Tweet
+1