Review: Bayside - Vacancy
7Score

Salah satu kritikan paling deras yang sering diberikan kepada Bayside adalah bagaimana mereka cukup jarang mencoba sesuatu yang baru di musik mereka. Kritikan tersebut biasanya mempunyai nada yang sama, yang muaranya kemudian sampai pada sebuah kesimpulan bahwa Bayside terlalu bermain aman, mengulang-ulang sesuatu yang sudah pernah mereka lakukan, sampai takut untuk mencoba sesuatu yang baru. Kritikan tersebut memang bukannya tanpa dasar, ketika kita mendengar nama Bayside, biasanya sudah terbentuk ide dalam pikiran kita tentang bagaimana karakteristik dari musik yang mereka mainkan. Padahal jika kita telaah lebih lanjut, mereka tidak selalu memainkan pattern yang sama, beberapa eksperimen pernah mereka lakukan, contoh paling mudah ditemui adalah pada lagu “On Love, On Life.”.

Terhitung sudah lebih dari satu dekade Bayside memainkan musik yang mereka yakini dan saya kira mereka sangat konsisten dalam melakukan itu. Walaupun tidak semuanya spektakuler, saya rasa tidak ada satupun rilisan dari mereka yang bisa dikatakan benar-benar buruk. Pada tanggal 19 Agustus 2016 kemarin, Bayside merilis album ke-7 mereka dengan nama Vacancy di bawah label Hopeless Records. Tentu menarik untuk mendengarkan apakah mereka tetap setia dengan konsistensi mereka atau mengubah halauan demi membungkam kritikan deras yang menuntut mereka untuk lebih berani bereksperimen.

Vacancy Tracklist:
1. Two Letters
2. I’ve Been Dead All Day
3. Enemy Lines
4. Not Fair
5. Pretty Vacant
6. Rumspringa (Heartbreak Road)
7. Mary
8. Maybe, Tennessee
9. The Ghost
10. It Doesn’t Make It True
11. It’s Not As Depressing As It Sounds

Saat kita membicarakan Bayside, rasanya tak mungkin bagi kita untuk tidak membicarakan frontman dari band ini, Anthony Raneri. Anthony adalah mastermind di balik Bayside sekaligus menjadi corong utama bagi band ini dalam penyampaian pesan melalui suara dia yang sangat khas itu. Pembawaan vokal dari Anthony yang sangat khas memberi warna istimewa bagi musik Bayside, seakan semuanya menyatu begitu saja. Namun, ketika kita mulai mendengar kombinasi dari vokal Anthony Raneri dan lead gitar milik Jack O’Shea, kita akan percaya begitu saja bahwa mereka ini the only band out there yang memainkan musik seperti ini. Boleh dikatakan ketika kita mulai menyatukan mereka, Bayside benar-benar berada di level yang berbeda.

Bukan Bayside namanya kalo tidak membuka sesuatu dengan ledakan, ketika kita mulai mendengarkan Vacancy kita akan langsung disuguhkan sebuah riff yang kejam, benar-benar khas Bayside. Jack O’Shea benar-benar seperti sedang kesetanan di sini. Beberapa isian gitarnya terdengar liar tak terkendali, bahkan ketika Anthony sedang bernyanyi, Jack masih setia dengan momen yang dia alami. Sedikit sulit untuk menilai bagian mana yang terbaik dari isian gitar Jack karena semua bagian gitar yang dia lakukan mempunyai momennya sendiri. Sebagai contoh, di lagu “I’ve Been Dead All Day”, kita bisa mendengar Jack O’Shea begitu menikmati bagiannya ketika mengisi lagu ini dengan teknik guitar lick yang tak masuk akal.

Menariknya, lagu “I’ve Been Dead All Day” adalah bukti dari Bayside bahwa mereka tak pernah terpaku pada pakem yang sama ketika menulis lagu. Jangan harap kalian akan menemukan sebuah struktur lagu yang standar di lagu ini, jika kalian mengharapkan sebuah interlude yang biasa saja ketika chorus 2 selesai, kalian salah besar. Setelah chorus 2 berakhir mereka justru bersenang-senang dengan struktur lagu yang cukup tidak orthodok dengan memasukan bagian yang mempunyai vibe dari salah satu lagu mereka di album Killing Time, “On Love, On Life”.

Tak hanya bereksperimen dengan struktur lagu, Bayside juga tampak bersemangat dalam mencoba berbagai macam instrumen untuk dimasukan ke dalam lagu ini. Ketika kita mendengarkan verse 1, verse 2, dan juga verse 3, kita akan mendengar sebuah isian piano yang menjadi dasar bagi segala melodi di bagian tersebut. Terlebih lagi, piano tersebut memberikan dinamika yang menarik karena memberikan kesan swing di lagu yang seharusnya terdengar kasar. Selain itu, beberapa kali terdengar juga mereka mengubah ketukan di lagu ini, seperti yang terdengar pada menit ke 2.00 menuju ke menit 2.07. Perlu dibahas juga bagaimana mereka memasukan cukup banyak harmonisasi vokal di album ini. Detail-detail seperti itulah yang pada khirnya akan membantu kita untuk lebih mengapresiasi apa yang selama ini sudah Bayside tulis.

Lagu “Pretty Vacant” boleh menjadi single andalan mereka untuk album ini dan harus diakui lagu tersebut memang mempunyai dasar yang sangat kuat, mulai dari melodi gitar yang catchy sampai pembawaan dari Anthony Raneri yang memang mengesankan. Tapi, di luar lagu “Pretty Vacant”, sebenarnya mereka menyimpan beberapa lagu yang berpotensi menjadi besar di album ini, lagu “Mary” adalah salah satunya. Lagu ini jika kita bandingkan, sebenarnya malah lebih cocok dimasukan ke dalam diskografi milik The Menzingers. Sebuah lagu punk rock dengan pengaruh pop punk yang cukup commanding dan sangat easy listening. Saya rasa, Jika ada satu lagu dari Bayside di album ini yang dapat dengan mudah masuk ke dalam chart top 40, lagu inilah yang akan melakukannya.

Namun, di balik segala kegemilangan komposisi musik yang mereka tawarkan, saya justru merasa poin terkuat album ini adalah pada bagian penulisan lirik. Anthony Raneri benar-benar menjadikan lirik di album ini serasa hidup. Ketika dia mulai menyanyikan bait pertama dari lagu “Mary”, “I met Mary on a moonless night / Her starry eyes could make the world look bright / Young and perfect, and full of life.”, kita seperti tidak sedang mendengarkan curhatan seorang vokalis band pop punk pada umumnya, malah saya merasa Anthony Raneri itu adalah seorang pujangga yang menulis lagu hanya untuk bersenang-senang saja. Alasannya simpel, dia benar-benar menguasainya.

Beberapa lirik yang Anthony Raneri tulis di album ini terdengar cukup personal, seperti pada lagu “It’s Not as Depressing as It Sounds”, dimana Anthony Raneri terdengar sedang menenangkan dirinya sendiri atau pada lagu “I’ve Been Dead All Day” dimana Anthony sedang membandingkan dirinya dengan Abraham/Ibrahim. Bahkan pada lagu yang paling sing along-able, “It Doesn’t Make It True”, Anthony tetap membubuhkan hook yang benar-benar catchy, sehingga menjadikan lirik yang dia nyanyikan menjadi mempunyai substansi, terasa penting. “Boys to the back and men to the front of the room / And if you think that you’ve got something missing / You probably do.”.

Meski begitu, tentu tidak mudah untuk menulis sebuah album yang tanpa cacat. Lagu “Rumspringa (Heartbreak Rod)” yang menjadi penghubung antara bagian pertama album dan bagian kedua album justru terdengar medioker untuk sebuah album yang seharusnya mempunyai potensi untuk menjadi album terbaik dari Bayside. Satu-satunya hal yang menjadikan lagu ini bisa ditolerir adalah solo gitar dari Jack O’Shea. Di samping lagu itu, saya kira tidak ada masalah lain yang cukup mengganggu untuk menjadikan album ini biasa saja.

Vacancy adalah sebuah album yang benar-benar mengejutkan. Ketika kalian mulai bosan dengan musik Bayside yang dianggap begitu-begitu saja. Mereka justru melakukan terobosan dengan menulis album paling menyegarkan dalam perjalanan karir mereka. Mungkin ini bukan album terbaik mereka, tapi jelas ini adalah salah satu album yang pantas untuk mereka banggakan dalam diskografi mereka. Dengan album ini Bayside telah menunjukan bahwa konsistensi terbukti membawa hasil yang lebih terukur dan terdengar jelas Bayside sudah menguasai cara untuk menjadi konsisten.

Go listen: “Mary”, “It Doesn’t Make It True”, “The Ghost”

About The Author

Martin K.Y

I'd love to talk mostly about music and pro wrestling, sometimes about anime and basketball, come talk.

Share
Tweet
+1