Sedikit terlambat memang, namun daftar album terbaik selama tahun 2016 ini sebenarnya sudah selesai dikurasi pada pertengahan bulan Desember 2016 lalu. Tahun 2016 boleh dikatakan sebagai tahun penting bagi sejarah musik, baik musik arus utama atau arus pinggir. Banyak rilisan penting yang diproduksi selama tahun 2016, baik itu beberapa rilisan blockbuster yang dilambangkan dengan jumlah play di Spotify, maupun album yang efeknya baru akan dirasakan beberapa tahun dari sekarang. Tahun 2016 memang mengejutkan, musik alternative yang mulai lesu kembali berwarna di tahun 2016, tak terkecuali dengan beberapa rilisan penting dari scene punk, emo, dan indie rock yang ditandai dengan terbangunnya American Football.

Untuk merayakan tahun yang begitu gemerlap, Backstage Whisp sudah merangkum 30 album alternatif terbaik yang dirilis di sepanjang tahun 2016. Ada juga beberapa honorable mention yang layak untuk didengarkan oleh kalian. Tanpa basa-basi lebih lanjut, inilah album terbaik 2016 versi Backstage Whisp.

Honorable mention:

Kyle Dixon and Michael Stein – Stranger Things Original Soundtrack

Thrice – To Be Everywhere Is To Be Nowhere

Gates – Parallel Lives

Blink-182 – California

All Get Out – Nobody Likes a Quitter

Kevin Devine – Instigator

 

30. Forests – Sun Eat Moon Grave Party

Ketika lagu pertama berjudul “You Seem a Little Anxious” diputar, kita langsung mencicipi sebuah album dengan beragam pengaruh mulai dari emo, pop punk, dan (tentu saja) math rock. Sebuah berlian yang menunggu untuk ditemukan, band ini adalah salah satu alasan kenapa kancah musik Singapura layak untuk diantisipasi untuk di tahun-tahun mendatang. Di balik riff serta melodi gitar yang manis dan ketukan drum yang groovy, album ini menyimpan cerita yang kurang mengenakan. Sebuah dokumen tentang bagaimana rasanya menjadi mantan kekasih. Sad.

Go listen: “What The Magic Is?”

 

29. Direct Hit! – Wasted Mind

Direct Hit! wasted mind

Tanda seru yang mengakhiri nama mereka tak hanya menjadi eksklamasi penting bagi band ini, tanda seru itu seakan menyimpan kode bahwa musik yang mereka mainkan tegas namun tetap menyenangkan. Wasted Mind adalah tipikal album pop punk antemik yang menawarkan segala sesuatu yang kalian rindukan dari poppy pop punk. Album ini cepat, bertenaga, menyenangkan, dan (sesuai dengan tema yang mereka hadirkan) adiktif. Mengambil tema obat-obatan adalah langkah yang menarik untuk band ini, tapi jika kita masuk lebih dalam, kita akan semakin memahami kenapa mereka memutuskan untuk mengambil tema itu. Ya itu tadi, adiktif.

Go listen: “Artifical Confidence”

 

28. Trophy Eyes – Chemical Miracle

Trophy Eyes Chemical Romance

Perubahan sikap yang cukup berani diambil oleh Trophy Eyes dan untungnya perubahan itu bermanfaat. Chemical Miracle adalah bentuk perkembangan yang sangat berarti, mulai dari hal-hal teknis seperti di departemen vokal sampai penulisan lirik yang kurang ajar jujurnya. Album ini tidak hanya bisa berfungsi sebagai sebuah album kesatuan yang kohesif, namun juga tetap layak menjadi mixtape kumpulan lagu terbaik dari Trophy Eyes. Yang menonjol dari album ini adalah bagaimana Trophy Eyes mulai belajar untuk memanfaatkan kombinasi one-two punch dari vokalis John Floreani, sebagai permohonan maaf dari debut mereka yang membosankan. Ini adalah sebuah album yang memikat dengan caranya sendiri.

Go listen: “Chlorine”

 

27. Oathbreaker – Rheia

Oathbreaker Rheia

Ada sebuah filosofi menarik di album ini, judul dari album ini, Rheia diambil dari mitologi Yunani yang diceritakan sebagai seorang ‘ibu’ dari segala dewa-dewi. Album ini boleh dipandang seperti itu jika kalian mau. Sebuah album yang melahirkan standar baru bagi musik black metal dengan segala kegemilangannya. Yang menarik dari album ini adalah bagaimana vokalis Caro Tanghe mengambil beberapa peran yang berbeda di sepanjang album. Caro laksana seorang narator yang menentukan kelanjutan takdir Rheia, seperti seorang ibu yang hendak memberi nafas kepada putra-putranya atau memang Caro adalah ibu dari segala sesuatu itu sendiri. Yang paling penting dari semua itu, melalui Rheia, Oathbreaker baru saja memberi teladan tentang bagaimana berpindah-pindah dinamika. Ini bukan tentang hal bermusik lagi, ini adalah sesuatu yang melanggar nalar.

Go listen: “Where I Live”

 

26. The Novembers – Hallelujah

The Novembers Hallelujah

Satu hal yang menarik dari The Novembers adalah daya tarik mereka yang luas dan seperti terkesan cross over. Musik yang mereka mainkan bisa melompat dari satu tegangan ke tengangan yang lainnya tanpa harus memaksakan sesuatu yang tidak pas. Hallelujah adalah sebuah bentuk kristalisasi dari beberapa elemen musik sekaligus, sebut saja beberapa jenis musik yang kalian tahu, besar kemungkinan hal itu ada dalam wadah bernama Hallelujah ini. Namun, dari semua itu, bukan kekayaan materi yang membuat album ini berharga. Album ini berhasil menunjukan bahwa di tengah usia yang sudah mencapai 11 tahun, The Novembers masih sangat solid dan percaya diri.

Go listen: “愛はなけなし”

 

25. Daughter – Not To Disappear

Daughter Not to Disappear

Album ini mungkin tidak akan memuaskan dahaga fans lama dari Daughter, tapi yang membuat album ini menarik untuk didengarkan adalah bagaimana Not To Disappear menyimpan potensi untuk pertumbuhan Daughter yang selanjutnya. Sudah waktunya bagi Elena Tonra untuk lebih berani dalam menyelami setiap cerita pribadi yang dia miliki untuk diberitakan kepada seluruh dunia. Elena terdengar percaya diri, instrumen yang melapisi vokalnya pun terdengar tak kalah halus. Album ini seperti hidup, sebuah petualangan dalam hal komposisi dan penceritaan. Membuatnya terdengar seperti dedaunan yang jatuh saat musim gugur, vibrant yet so alive.

Go listen: “New Ways”

 

24.  Tiny Moving Parts – Celebrate

Tiny Moving Parts celebrate

Sepintas Dylan Mattheisen terlihat seperti seseorang yang lebih suka menghabiskan waktu dengan membaca headline koran pagi dengan mengenakan setelan licin untuk bersiap berangkat kerja. Namun, dia membalikkan segala paradigma itu dengan album Celebrate, sebuah album yang tak hanya penuh teriakan sana-sini, tapi juga penuh dengan kekacauan yang dinamis. Album ini syarat adrenalin, tanpa aturan yang baku, membuat kita harus menebak akan dibawa kemana arah dari masing-masing komposisi. Hasil akhirnya menjadi sangat memuaskan dan menguras energi.

Go listen: “Birdhouse”

 

23. Joyce Manor – Cody

Joyce manor cody

Joyce Manor terkenal dengan musiknya yang tanpa basa-basi, dengan lirik yang relatable dan perpaduan musik pop punk serta emo yang tidak berlebihan. Selepas debut sukses mereka, Never Hungover Again, Joyce Manor lebih melunak dengan musik yang bisa dikatakan lebih ‘menjual’ dengan sound yang tak sekasar album sebelumnya. Untungnya, Joyce Manor tidak benar-benar menukar proses kreatif mereka untuk menjadi lebih dikenal, mereka masih sangat fasih dalam menulis melodi yang memikat dengan beberapa bagian massive yang menunggu untuk dinyanyikan bersama-sama dalam sebuah ruangan kecil penuh dengan peluh dan teriakan.

Go listen: “Fake I.D”

 

22. Sumac – What One Becomes

Sumac what one becomes

Sumac hanya membutuhkan waktu satu tahun untuk menciptakan sebuah album yang sangat kolosal paska debut mereka berjudul The Deal. Album ini istimewa, tidak hanya mampu menunjukkan perkembangan musikalitas dari para personel mereka, namun juga menunjukkan bagaimana sebuah album dengan pendekatan yang sangat berat seperti ini memiliki pergerakan yang sangat mulus dengan tujuan yang sangat jelas. Kita perlu memuji visi dari mereka dalam menulis materi yang ada di album ini, benar-benar tertulis dengan sangat baik. Sebuah gagasan besar untuk sebuah album yang layak dikategorikan sebagai ‘raksasa’.

Go listen: “Rigid Man”

 

21. Saosin – Along The Shadow

Saosin along the shadow

Tanpa berusaha menafikan Cove Reber, Saosin terdengar fenomenal bersama Anthony Green di Along The Shadow. Yang istimewa dari album ini adalah, album ini tidak hanya membawa memori lama yang terungkap lagi, tapi juga membawa optimisme masa depan bahwa emo sebenarnya tidak semurah itu. Materi di Along The Shadow adalah materi terbaik Saosin paska album self-titled mereka, tak hanya catchy dengan sound yang matang, mereka juga bermain di luar konteks dengan permainan pacing yang mengagumkan.

Go listen: “Racing Toward a Red Light”

 

20. Japanese Breakfast – Psychopomp

Japanese Breakfast Psychopomp

Berbicara mengenai album ini, siap-siaplah kalian untuk menemukan ragam yang luas. Album dengan nafas synth pop ini mempunyai beberapa bagian yang terdengar cukup catchy, namun ada pula bagian lain yang sangat depresif nan kelam. Psychopomp menawarkan mood yang luas, sebuah album yang menyenangkan namun juga melankolis di saat bersamaan. Meski demikian, kekuatan utama album ini adalah penjiwaan yang begitu personal dengan cerita yang kuat.

Go listen: “Jane Cum”

 

19. Posture & The Grizzly – I Am Satan

Posture & The Grizzly I Am Satan

Jika kalian mendengarkan album ini tanpa mengetahui siapa mereka sebelumnya, mungkin kalian akan mengira bahwa ini adalah proyek lain dari Tom Delonge. Posture & The Grizzly dengan album I Am Satan adalah bagaimana seharusnya Box Car Racer terdengar. Meski telah berangkat dari sound awal mereka di album sebelumnya dan bermain di area yang lebih segar, esensi dari musik mereka tetaplah sama. Mereka tetaplah sekumpulan pemuda yang terdengar frustasi, penuh kecemasan, dan seperti tak kenal lelah.

Go listen: “Delete Me”

 

18. White Lung – Paradise

White lung paradise

Paradise adalah tempat pertunjukan tentang bagaimana melodi gitar dalam sebuah lagu dapat berjalan sejajar dengan vokal secara terus menerus. Dengarkanlah dan kalian akan merasakan pengalaman didesak secara terus menerus secara kurang lebih setengah jam.

Go listen: “Kiss Me When I Bleed”

 

17. PUP – The Dream Is Over

pup the dream is over

Sebagai band yang dikenal urakan ketika berada di atas panggung, album The Dream Is Over seperti melengkapi narasi yang mereka bawakan sebagai sebuah band. Album ini penuh kemarahan, bising, dan terkadang tidak bisa dinalar. Namun, justru di situlah seni mendengarkan diskografi PUP, mereka menawarkan sebuah seni huru hara yang dikemas secara keroyokan dengan balutan melodi nan renyah. Dibandingkan dengan debut mereka, PUP di The Dream Is Over jauh lebih matang, pilihan melodi terdengar lebih definitif, ombak vokal terdengar lebih lugas, dan kecepatan yang mereka mainkan terdengar jauh lebih presisi.

Go listen: “DVP”

 

16. Modern Baseball – Holy Ghost

Modern Baseball holy ghost

Pernah kalian mendengarkan cerita tentang hidup dan mati seseorang? Seperti itulah album ketiga dari Modern Baseball ini. Album ini berpusat kepada cerita seorang Brendan Lukens dalam mengalahkan ‘kematian’ untuk terlahir kembali dengan optimisme baru. Album ini akan menghabiskan energimu, mengobok-obok emosi, serta membanjiri perasaanmu dengan getir. Ketika itu semua berakhir, kalian akan merasakan sesuatu yang aneh tapi ingin kalian alami kembali.

Go listen: “Just Another Face”

 

[wp_ad_camp_3]

 

15. Jeff Rosenstock – Worry

Jeff rosenstock worry

Tidak ada hal yang bisa merepresentasikan segala yang dilakukan oleh Jeff sepanjang karirnya lebih baik dari album ini. Worry menawarkan ledakan, enerji, sensasi, konsep tentang pertumbuhan, dan retrospeksi yang seperti merangkum perjalanan Jeff dalam bermain musik selama 20 tahun terakhir. Namun dari itu semua, yang paling penting adalah mengetahui bahwa Jeff Rosenstock masih belum berhenti untuk melebarkan repertoir bermusiknya. Tak ingin terlewat, album ini mengingatkan kita kepada album legendaris Abbey Road milik The Beatles.

Go listen: “To Be a Ghost”

 

14. Radiohead – A Moon Shaped Pool

Radiohead a moon shaped pool

Jika ada satu album yang berhasil mengaktifkan radar kecemasanmu dengan sebegitu cepat, album ini layak masuk pertimbangan. Sebuah album tentang kecemasan yang datang ketika seseorang masuk dalam fase menimbang segala sesuatu atau lebih parahnya lagi, melihat harapan yang sudah dalam genggaman hilang begitu saja. A Moon Shaped Pool adalah cara dari Radiohead untuk sengaja menceburkan diri dalam kefanaan, sebuah seni dalam memilih untuk menghabiskan waktu atau melanjutkan eksplorasi. Untungnya, album ini masuk ke dalam kategori yang kedua.

Go listen: “True Love Waits”

 

13. Camp Cope – Camp Cope

Camp Cope Camp Cope

Camp Cope adalah pertanda bagaimana koneksi yang terbangun antara artis dengan penonton adalah hal paling sakral dalam karya musik. Sebuah album yang penuh dengan kegelapan, rasa cemas, tangisan, luapan emosi, yang pada akhirnya dibungkus oleh perasaan katartik secara berlebihan. Ini adalah salah satu album paling memuaskan yang bisa didengarkan dari kalender tahun 2016.

Go listen: “Done”

 

12. Microwave – Much Love

Microwave Much Love

Kekuatan utama dari album ini, selain pengaruh southern rock yang kental adalah cerita yang terkandung dalam setiap lagu yang menjadi pondasi dari Much Love. Album ini seperti sebuah nostalgia, tak hanya dari segi sound yang mereka hasilkan, namun juga dari dari elemen pendukung seperti cover album. Di tengah band-band kolega mereka memuja kemewahan dalam proses produksi, Microwave justru membawa kita ke dasar utama dalam penulisan album. Album ini akan mengembangkan senyuman tipis di sudut bibir kalian, tak banyak album yang bisa seperti itu.

Go listen: “Vomit”

 

11. Regina Spektor – Remember Us To Life

Regina Spektor Remember us to life

Entah bagaimana cara dia melakukannya, namun Regina Spektor jelas tahu bagaimana menulis sebuah album dengan konstruk yang memukau, tak terkecuali dengan Remember Us To Life. Lirik yang jenaka dicampur dengan keanggunan chamber pop dengan berbagai penekanan dan kejutan yang dia lantunkan membuat album ini menjadi salah satu album paling lengkap dalam diskografi miliknya dan salah satu album pop yang paling mengesankan tahun ini.

Go listen: “Obsolete”

 

10. Alcest – Kodama

Alcest Kodama

Atmosfer yang disuguhkan dalam Kodama tak main-main, detik kalian memutuskan untuk mendengarkan ini, seketika itu juga kalaian akan jatuh ke dalam ruangan penuh dengan tipu muslihat nan surealis yang dikelilingi oleh sebuah dinding suara tebal racikan Alcest. Kodama seperti sebuah dunia mimpi, dunia spritual yang seperti tidak berasal dari dunia ini dengan beragam cresendo dan kompleksitas yang intens.

Go listen: “Je suis d’ailleurs”

 

9. Kero Kero Bonito – Bonito Generation

Kero Kero Bonito Bonito Generation

Mendengarkan Bonito Generation memiliki kualitas yang sama dengan memakan permen dengan kadar Aspartam yang tinggi, manis sekali. Kero Kero Bonito menggambungkan semua elemen yang ada di kepala mereka untuk kemudian dijadikan sebuah musik nan enerjik, ceria, dan menginfeksi. Coba hitung berapa kali kamu akan tersenyum saat kamu mendengarkan album ini?

Go listen: “Break”

 

8. Ceres – Drag It Down On You

Ceres Drag It Down On You

Drag It Down On You berhasil menangkap emosi yang terkandung dalam lirik dan sound secara murni. Jika kita dengarkan, album ini terdengar cukup raw dan tidak terpoles, namun justru di sinilah daya tarik album ini karena terdengar heartfelt dan mampu melengkapi atmosfer melakonlis yang tengah mereka bangun. Sebuah album yang didesain sebagai pengingat akan pentingnya untuk menjadi autentik dalam segala hal.

Go listen: “Baby’s Breath”

 

7. Car Seat Headrest – Teens of Denial

Car Seat Headrest Teens of Denial

Sinikal, cerdas, dan melankolis, tiga kata itu mewakili karya terbaru dari Car Seat Headrest berjudul Teens of Denial. Album ini dipenuhi oleh humor gelap dan pandangan Toledo tentang suatu kehidupan yang membawa dirinya pada suatu pencerahan. Pada akhirnya, Toledo hanyalah orang biasa seperti kita semua, depresi dan terkadang bisa menjadi sangat negatif, perbedaannya hanyalah pada sebuah fakta bahwa Toledo menerima itu sebagai bagian dari dirinya sendiri.

Go listen: “Destroyed by Hippie Powers”

 

6. Touche Amore – Stage Four

Touche Amore Stage Four

Stage Four adalah petualangan personal dalam kehidupan dalam menanggapi kehilangan, kesedihan, dan pada akhirnya kita ditawari sebuah kesempatan untuk menerima itu semua. Laksana sebuah roller coaster, album ini akan mengobok-obok emosi kalian namun kalian akan belajar untuk menerima kelemahan dalam menjalani kehidupan ini. Tak pernah kita mendengar Jeremy Bolm bisa serapuh ini, sebuah pengalaman yang berharga untuk dilewatkan begitu saja.

Go listen: “Benediction”

 

5. The 1975 – I Like It When You Sleep, For You Are So Beautiful Yet So Unaware Of It

The 1975 I like it when you sleep, for you are so beautiful yet so unaware of it

Judul album ini memang menjengkelkan, sangat panjang dan seperti tidak penting, namun judul yang panjang ini membuat aura arogansi yang secara tersirat ada di band ini semakin kuat. Sebuah album dengan beragam pengaruh mulai dari, pop, rock, funk, rnb, electronic, dan tentu saja sedikit kecongkakan. The 1975 telah berhasil meramu itu semua untuk menghasilkan sebuah album yang mampu melewati batasan mood maupun pengaruh musim. Nyatanya, kepercayaan diri dan arogansi yang seperti ini justru semakin langka dalam industri yang semakin ekspansif seperti sekarang ini.

Go listen: “Somebody Else”

 

4. Jimmy Eat World – Integrity Blues

Jimmy Eat World integrity blues

Ada satu aturan tak tertulis, jangan pernah beri ekpektasi tinggi pada band rock yang sudah memasuki usia dua dekade untuk menciptakan karya penting dalam diskografi mereka. Aturan itu tak pernah berlaku pada Jimmy Eat World yang seperti tak pernah kehabisan ide dan sentuhan emas dalam menulis album yang ketika didengarkan memberikan rasa nyaman seperti ketika mendengarkan teman lama bercerita. Dalam Integrity Blues, Jimmy Eat World tak terdengar sedang menua sedikitpun, mereka masih mampu untuk menulis hook yang meledak dengan komposisi yang indah dan lirik yang menohok. Salah satu album paling penting dalam diskografi mereka.

Go listen: “You Are Free”

 

3. The Hotelier – Goodness

The hotelier goodness

Christian Holden baru saja menobatkan dirinya sebagai kelahiran kembali dari William Wordsworth. Salah satu karya paling terkenal dari Wordsworth bercerita tentang hubungan manusia dengan alam yang tertulis dalam The Recluse, sementara magnum opus dari Christian Holden tertulis dalam sebuah album berjudul Goodness yang berfokus pada konsep naturalisme dan transendentalisme. Album ini bukti bahwa karya adiluhung dalam konteks emo itu nyata.

Go listen: “Sun”

 

2. Angel Olson – My Woman

Angel olson my woman

Melalui My Woman, Angel Olson baru saja melewati semua koleganya yang berada di jalur kontemporer dengan sebuah rilisan yang diverse dan kaya. My Woman seperti sebuah perjalanan menuju alam pikiran Angel Olson, di sana kita akan menemukan banyak hal dan semuanya terangkum dengan jelas, tak selalu harus baik, tapi sangat intim. Semuanya menjadi satu dengan sebuah narasi dari suara milik sang empunya cerita yang menghipnotis. Secara garis besar, ini adalah diari personal yang terbuka lebar bagi setiap pendengarnya.

Go listen: “Shut Up Kiss Me”

 

1. Pinegrove – Cardinal

Pinegrove cardinal

Satu kata kunci dalam melambangkan album ini secara keseluruhan: sangat personal. Cardinal mengajarkan bahwa dalam momen paling kecil sekalipun, dapat meninggalkan arti yang mendalam. Album ini sederhana, tak pernah ingin terdengar gagah, sesederhana bagaimana engkau mau mengungkapkan apa yang ada di pikiranmu. Namun di balik kesederhanaan itu, kita seperti sedang menemukan sebuah permata di padang rumput. Tidak terpikir untuk dicari, tetapi sangat berkesan.

Go listen: “Old Friend”

About The Author

Redaksi

Backstage Whisp (http://backstagewhisp.com/) adalah media online musik alternatif berbahasa Indonesia. Informasi lebih lanjut silahkan menghubungi kami di [email protected]

Share
Tweet
+1