Lagu Jepang selalu memiliki pesona yang unik, setiap lagu seperti ditulis untuk merefleksikan budaya yang berkembang di tempat itu.

Di luar Amerika Serikat, Jepang merupakan negara dengan industri musik yang paling maju di seluruh dunia. Sebuah laporan dari Quartz menyebutkan bahwa nilai penjualan CD di Jepang saja tiap tahunnya mencapai nilai 2,4 miliar dollar, sebuah nilai yang sangat tinggi sekali. New York Times pernah mewawancarai salah satu penikmat musik di Jepang yang mengaku membeli setidaknya tiga buah CD dalam sebulan. Artikel itu paling tidak menyibakkan satu pengetahuan, bahwa aktivitas membeli CD merupakan salah satu hal yang paling digemari oleh orang-orang Jepang. Itu pulalah yang menjadi alasan (di luar aspek psikologis tentunya) kenapa 48 Group berhasil sustain sampai artikel ini dimuat.

Berbicara mengenai lagu Jepang, tentu kalian akan akrab dengan nama seperti L’arc en Ciel, Utada Hikaru, Asian Kungfu Generation, dan yang sedang naik daun sekarang ini ONE OK ROCK dan Babymetal atau LADYBABY. Ada alasan kenapa band-band itu berhasil membangun fanbase yang luas sekali di seluruh penjuru dunia. Musik Jepang memang memikat, jika kita melihat lebih jauh, Jepang memiliki katalog musik nasional yang luas sekali. Banyak musik yang tersimpan dalam perbendaharaan musik Jepang, mulai dari yang populer di kalangan semua orang seperti J-Pop atau J-Rock, sampai yang benar-benar niche seperti Shibuya Kei dan segala hal yang berhubungan dengan musik indie (sebagai catatan, banyak band indie rock Jepang yang akhirnya diterima secara luas setelah lagu mereka dijadikan lagu anime).

Jepang dikenal memiliki rentang emosi yang cukup luas ketika kita berbicara mengenai penulisan lagu. Mereka banyak berbicara mengenai persahabatan, penaklukan rintangan, dan bahkan tak ragu untuk menjadi rapuh. Lagu berjudul “Mira e” misalnya (lagu ini sempat dibawakan ulang dalam versi Bahasa Jawa oleh musisi asal Yogyakarta, OM Wawes dan NDX Aka), lagu yang dibawakan oleh musisi dengan nama panggung Kiroro ini merupakan salah satu lagu Jepang yang sangat sedih. Mulai dari pembawaan, penghayatan, sampai konten lirik semuanya benar-benar berada pada satu frekuensi. Di lain jalur, kita bisa menemukan band yang membawa semangat seperti Asian Kungfu Generation (yang mencapai puncak popularitas setelah lagu dia menjadi soundtrack dari Naruto), atau band dengan pengaruh British garage rock DYGL yang membawa angin segar dalam skena musik Jepang. Ketiga band tersebut paling tidak sudah berhasil melambangkan kekayaan yang dimiliki oleh industri musik Jepang, baik arus utama maupun arus pinggir.

Oleh karena luasnya cakupan musik di Jepang itulah, tim redaksi Backstage Whisp memutuskan untuk mengkurasi lagu-lagu yang sangat menarik dari industri arus pinggir Jepang. Kami sudah memilih sepuluh lagu yang menurut kami sangat jarang dibicarakan dan diketahui oleh pendengar musik Jepang secara umum. Padahal kami merasa, eksistensi mereka perlu untuk diketahui karena karya yang mereka bawakan memang memiliki kualitas yang patut untuk diapresiasi. Kami tidak akan membatasi lagu apa yang ada di sini, entah itu lagu sedih, atau lagu anime, jika itu memang perlu untuk dibahas, kami akan membahasnya. Tanpa bertele-tele lagi, selamat menikmati sajian 10 Lagu Jepang Yang Sebaiknya Kamu Ketahui dari Backstage Whisp. Edisi ini juga akan mengawali edisi lagu Asia yang akan ditulis dalam beberapa waktu mendatang.

 

 

PENs+ – “nagisa” (diambil dari OUR days. EP, 2015)

PENs+

PENs+ merupakan band yang dibentuk dari sekumpulan anak-anak kuliahan berusia 21 tahunan yang bersepakat untuk memainkan sebuah musik dengan infusi emo dan math rock. Ketika kalian membicarakan tentang musik arus pinggir Jepang, terutama skena indie rock yang berkembang dengan luas di sana. PENs+ merupakan salah satu band yang konsisten dalam menghasilkan karya berkualitas, salah satu karya terbaik mereka merupakan lagu berjudul “nagisa” yang diambil dari EP terakhir mereka OUR days.. “nagisa” banyak menyentuh sisi teknikal dari math rock, mereka tampak tak ragu-ragu untuk memainkan alur yang kompleks itu dengan struktur yang terbilang unik. Selain sisi teknikal yang menonjol, lagu ini juga merupakan lagu yang enak untuk didengarkan, terutama ketika mereka mulai membabi buta memainkan susunan tab yang sudah mereka tulis. Berita buruknya, mereka sudah bubar.

 

Toe – “I Dance Alone” (diambil dari Songs, Ideas We Forgot, 2003)

Toe

Ketika memainkan math rock, Jepang sangat terkenal dengan tingkat presisi dan kerumitan pola musiknya. Namun, ajaibnya, mereka selalu berhasil menghasilkan bebunyian yang enak meskipun secara teknis musik yang mereka mainkan itu terlalu ribet. Lagu “I Dance Alone” merupakan petunjuk bagi kalian yang ingin mengenal lebih dalam mengenai musik math rock di Jepang. Dibangun di atas pemahaman yang memadai mengenai cara perekonstruksian sebuah lagu, Toe dengan kurang ajarnya berlagak sok manis padahal mereka sedang memainkan nada-nada mematikan (kalian yang mendengarkan Polyphia akan paham). Dengarkan lagu “I Dance Alone” di bawah ini.

 

Kinoko Teikoku – “WHIRLPOOL” (diambil dari Whirlpool, 2012)

Kinoko Teikoku

Bisa dikatakan sebagai band yang sudah sangat siap untuk menggapai tangga arus utama global, meneruskan band-band Jepang lainnya seperti L’arc en Ciel dan (saat ini) One OK Rock. Kinoko Teikoku adalah pintu masuk bagi kalian yang ingin mengenal musik indie rock dan shoegaze dari Jepang. “WHIRLPOOL” sendiri merupakan fusion dari alternative rock dan shoegaze yang memukau, dibangun di atas landasan wall of noise dan juga beberapa bagian eksperimental dari departemen gitar. Jika kalian perhatikan, banyak bagian gitar yang arhythmic dari lagu ini, namun justru di situlah tampak betul pilihan estetika yang menarik dari musik mereka. Meski cenderung bising, namun lagu-lagu dari Kinoko Teikoku banyak didasari oleh nuansa melankolis dan pada fase tertentu menjadikan lagu-lagu mereka menjadi sedih. Dengarkan “WHIRLPOOL” di bawah ini.

 

The Cabs – “anschluss” (diambil dari Regenerative Landscape, 2013)

The Cabs

Satu yang membuat the Cabs dikultuskan oleh pendengarnya adalah bagaimana mereka memiliki kemampuan dalam mengawinkan sisi paling manis dan kece dari musik pop Jepang dengan kompleksitas tanpa ampun math rock yang mereka mainkan dengan tingkat presisi sangat tinggi. The Cabs tak hanya bisa menulis sebuah nada yang nostalgik, namun mereka juga menaruh emosi yang sedemikian rupa agar pendengar mereka yang mendengarkan lagu ini ikut terseret ke dalam kegembiraan yang menunggu untuk kita pantik. Sejak lagu ini dimulai, kalian akan menemukan sebuah bagian yang sangat populer sekali, mengingatkanmu pada masa-masa menonton anime mungkin? Coba dengarkan lagu berjudul “anschluss” di bawah ini.

 

Otoboke Beaver – “Love Is Short” (diambil dari Love Is Short! Single, 2017)

Otoboke Beaver

Satu nama paling baru yang meramaikan skena punk Jepang, adalah sebuah band yang seluruh personelnya adalah wanita namun mereka tak pernah merasakan penyesalan dalam menulis lagu-lagu agresif seperti ini. Band yang berbasiskan di Kyoto ini memainkan musik punk dengan banyak sekali chant yang diselingi oleh harmoni vokal untuk menghasilkan sesuatu yang kontras dengan ketukan yang mereka mainkan. Mereka tanpa ampun, terdengar sangat kejam namun beberapa bagian spoken word yang mereka masukan akan membuatmu meleleh. Mungkin saja band ini akan cocok untuk kalian dengarkan wahai pengagum idol group Jepang yang ingin terdengar lebih edgy.

 

Spool – “Sway, Fadeaway” (diambil dari Sink You, 2013)

Spool

Jepang seperti tak pernah kekurangan stok band shoegaze yang berada di bawah radar. Satu nama lagi yang patut masuk ke dalam perhatian kalian: Spool. Lagu “Sway, Fadeaway” adalah permulaan yang bisa kalian coba. Lagu ini sangat ringan, bahkan untuk kalian yang masih asing dengan musik-musik shoegaze-pun seharusnya tidak ada kesulitan yang berarti untuk melumat lagu ini. Dipelopori oleh raungan gitar yang tiada lelah dalam memberikan warna dreamy dan vokal Ayumi Kobayashi yang menenangkan membuat lagu ini sebagai salah satu lagu penghantar tidur terbaik. Secara garis besar, trio ini berhasil menciptakan pengalaman yang mengesankan dalam perjalanan yang berlangsung hampir 4 menit. Warna gitar yang membius pun tak terelakan lagi memberikan kontribusi dalam proses ilusi, mencemplungkanmu ke dalam ruang waktu yang berbeda. Dengarkan lagu “Sway, Fadeaway” di bawah ini. ps. album diskografi mereka juga dijual oleh label asal kota Malang, Gerpfast Kolektif melalui Bandcamp.

 

Hump Back – “Iya ni Naru” (diambil dari Yoru ni Nattara, 2016)

Hump Back

Hump Back baru merilis debut EP mereka pada bulan Desember 2016 lalu, namun dari satu EP tersebut kita tahu bahwa band ini bukan main-main. Mereka seperti mengambil pengaruh  dari musik emo, pop jepang, dan indie rock untuk kemudian meleburkannya menjadi sebuah musik yang mereka mainkan. “Iya ni Naru” tidak hanya catchy, lagu ini memiliki daya tarik arus utama yang kuat, namun bukan berarti kacangan, mereka mengonsep lagu ini dengan benar-benar serius, memperhatikan tiap bagian dan menempatkan hal-hal yang sedikit berbeda untuk menjadikannya berwarna. Kreativitas mereka dalam mengolah nada mampu mengubah sebuah lagu menjadi sebuah petualangan yang menarik karena mereka tak hanya mengulangi bagian repetisi yang menjadi hook sebuah lagu, namun juga mengolahnya sedemikian rupa sehingga terdengar sangat menyegarkan di tiap bagian. Dengarkan “Iya ni Naru” di bawah ini.

 

DIALUCK – “Sēshun” (diambil dari First Aid Kit, 2016)

DIALUCK

Tahun 2016 kemarin banyak sekali band indie rock asal Jepang yang merilis musik sangat bagus, selain Hump Back, nama baru lain yang mencolok perhatian adalah DIALUCK. Band ini sedikit mengambil pendekatan yang berbeda dibandingkan dengan Hump Back, bisa dikatakan mereka suka bermain dalam suasana yang lebih santai dengan isian gitar yang difokuskan dengan sebuah petikan. Ini adalah sebuah lagi untuk kalian yang sedang ingin menjalani segala sesuatunya dengan cara sedikit santai, mulai dari ketukan, mood, dan suara yang memberikan kedamaian. Dengarkan lagu ini jika kalian sedang merasakan bahwa hari kalian berjalan di luar tempo yang sebenarnya kalian inginkan, mungkin lagu ini bisa menjadi penetral bagi kalian.

 

Split End – “Reinkōto” (diambil dari Amamoyo, 2014)

Still End

Ada beberapa band Jepang yang mampu menerjemahkan emosi mereka dan meletakkannya dalam sebuah lagu, seperti 7!! (lagu “Orange”) dan satu lagi Split End, kuartet indie rock asal Kansai. Lagu “Reinkōto” menyimpan emosi yang menunggu untuk diluapkan. Ketika kalian mendengarkan lagu ini, kalian akan merasakan pengaruh yang diberikan oleh band Jepang veteran lainnya, Chatmonchy dan sepintas musik yang juga bisa kalian temukan di lagu Brand New berjudul “Mixtape”. Lagu “Reinkōto” sendiri, yang dalam bahasa Indonesia berarti jas hujan, merupakan lagu tematik yang diangkat dari judul EP ini yang dapat diartikan sebagai pertanda akan sebuah hujan. Dengarkan lagu berjudul “Reinkōto” di bawah ini.

 

Bakyun the Everyday – City Boy (diambil dari DOSUKOI ・ CITY SURVIVAL, 2017)

Bakyun The Everyday

Oke lagu terakhir yang menutup sajian ini akan kami ambilkan dari salah satu lagu Jepang terbaru yang cukup menyita perhatian. Perkenalkan duo indie punk asal kota Tokyo, Bakyun the Everyday. Mereka sangat enerjik, berpindah dari satu bar ke bar yang lainnya dengan energi yang melimpah. Untuk kalian yang menyukai musik punk rock seperti RVIVR atau apapun yang dirilis oleh Don Giovanni Records, lagu ini bisa menjadi lagu yang masuk ke dalam daftar main kalian. Lagu ini, dalam konteks apapun termasuk ke dalam lagu yang menginfeksi, dengan kombinasi satu-dua, Bakyun the Everyday (sesuai namanya) adalah band yang dapat kalian jadikan sebagai penyuplai energi sehari-hari ketika harimu mulai loyo. Dengarkan “City Boy” di bawah ini.

 

Lagu-lagu Jepang di atas memang bukanlah lagu Jepang yang populer seperti lagu milik Utada Hikaru, Ayumi Hamasaki, atau One OK Rock. Namun, paling tidak lagu Jepang di atas enak untuk didengarkan meskipun tidak sepenuhnya mengambil akar musik populer. Adakah lagu Jepang favorit kalian yang setiap hari kalian dengarkan? Mari bagikan melalui kolom komentar di bawah ini ya. Ikuti juga sajian lagu paling berpengaruh untuk tiap genre.
1. Lagu Pop Paling Berpengaruh
2. Lagu Punk Paling Berpengaruh
3. Lagu Metal Paling Berpengaruh

Ikuti Backstage Whisp untuk ulasan dan berita musik terbaru.

About The Author

Redaksi

Backstage Whisp (http://backstagewhisp.com/) adalah media online musik alternatif berbahasa Indonesia. Informasi lebih lanjut silahkan menghubungi kami di [email protected]

Share
Tweet
+1