Setelah sempat vakum, Patric Wilson akhirnya kembali lagi dengan Tahun Kedua. Yang membuat album ini terasa spesial adalah untuk pertama kalinya dalam 6 tahun mereka kembali dengan formasi awal mereka. Album Tahun Kedua sendiri memang tidak segarang rilisan awal mereka, tapi kita semua mengakui bahwa ciri khas mereka dalam membawakan lagu cinta tidak dapat dibantah di album ini. Album ini juga lebih matang baik dari lirik maupun aransemen musik, sehingga tidak ada salahnya bagi kalian semua untuk mulai mendengarkan diskografi Patric Wilson mulai dari album ini.

Band ini sendiri sudah mulai dikenal sejak 2008, saat itu lagu andalan mereka “Kick Your Boy” adalah lagu yang menjadi semacam anthem setiap kali Patric Wilson bermain. Lagu ini sendiri memiliki sound raw dan lirik yang catchy dan mudah diingat seakan mengajak kalian untuk sing along setiap kali mendengar lagu ini. Sejauh ini, Patric Wilson telah merilis sebuah EP pada tahun 2010 lalu dengan judul Diluar Prediksi, yang juga menampilkan salah satu lagu mereka yang paling dikenal “Jangan Kembali”.

 

Malam itu, Backstage Whisp menghubungi langsung Patric Wilson untuk menanyakan beberapa hal yang memang membuat saya penasaran. Mulai dari perasaan kembali ke lineup awal sampai kepada bocoran rencana mereka di masa mendatang.

Hai bagaimana kabar kalian?
Kabar kami dalam kondisi sehat

Setelah ditunggu cukup lama, akhirnya kalian kembali lagi dengan formasi awal, bagaimana perasaan kalian saat ini dapat bermain dengan formasi original?
Kembali dengan personil original memang di luar rencana. Tak dipungkiri mood bermusik kami tidak dalam kondisi 100%, kita tetap sibuk dengan rutinitas dan juga realita kehidupan. Namun kita bersama bisa membuktikan bahwasanya jarak bukanlah satu faktor paling berat. Yang paling utama adalah ada niat kuat, dengan begitu pasti ada jalan. Yang kedua adalah sinergi kelompok. Ketiga adalah kerelaan waktu dan dana operasional band tentunya.

Sering terdengar suara orang-orang yang mengatakan Patric Wilson tanpa Bayu dan Wahyu seperti mati, kalian ada tanggapan mengenai persepsi ini?
Pada saat itu untuk menentukan player substitusi bayu dan wahyu memang tidak mudah, karena keduanya memiliki andil di band yang sangat penting dalam penulisan komposisi lagu dan materi. Kami tidak ingin menyebut istilah mati, kami berusaha keras untuk saling menyesuaikan dengan personil pengganti saat itu. Kami gagal dalam menanamkan hal paling fundamental, yaitu keselarasan background referensi musik dan penjiwaan.

Saya kira penyebab munculnya komentar Patric Wilson mati dikarenakan dalam periode tanpa Wahyu dan Bayu orang sering bertanya “Kenapa PW nggak ada materi baru ya?”. Apa memang benar seperti itu?
Audra Agil: Sebetulnya materi ada, namun memang tidak di-share ke publik. “Like a Lover” tuh, karena memang (saat itu) baru disibukkan dengan kegiatan masing-masing.
Indra: Benar, saya merasakan hal itu seperti pacaran. Jujur saja yang namanya suara itu tidak bisa digantikan apalagi karakter. Kenapa waktu kami ditinggal Bayu dan Wahyu hanya menelurkan “Like a Lover”? Karena memang saat itu masih kondisi menggantung. Saya sangat bersyukur karena sampai saat ini Tuhan adalah Maha Baik karena telah mempersatukan kita lagi.

Selama Bayu dan Wahyu sibuk dengan rutinitas kalian yang mengharuskan kalian untuk cabut dari PW, kalian sempat berpikir kalo saat seperti ini bakal tiba nggak sih?
Ada namun kemungkinan sangat kecil, ada saatnya terdapat titik jenuh dan ingin kembali ke masa penuh dengan adrenalin. Pemicu sangat diperlukan dalam hal, (pemicu) ini datang di saat yang sangat tepat. Terima kasih pada band Hang Out karena menjadi trigger awal band kami kembali ke ranah hiburan.

Bagaimana dengan Indra dan juga Audra Agil, kalian menyangka nggak kalo Bayu dan Wahyu bakal kembali ke PW dan langsung bikin materi baru?
Indra: Sama sekali tidak menyangka. Awalnya saya dan Audra selalu berharap mereka kembali (tertawa), tapi kami sudah pasrah hingga Audra gantung bass dan saya sibuk dengan beberapa side project. Tak terasa hampir 4 tahun kami melupakan kuartet indierock kebanggaan kami dan tepat di pertengahan 2015 akhirnya semua seperti beruntun, kejadian demi kejadian kami alami dari lost contact sampai akhirnya bertegur sapa lagi di sosial media, kemudian itu mengalir ke satu tujuan yaitu kembali berkarya. Benar kata Bayu tegur sapa yang akhirnya menggerakkan kami adalah sentilan dari band sahabat kami Hang Out (melodic punk) dari Yogyakarta yang diakhir tahun 2015 kemarin mereka bertandang ke Tangerang. Saya ikut kesana tanpa pikir panjang, saya menghubungi Bayu memberi kabar untuk datang ke acara. Bayu pun antusias. Saya melihat dengan jelas muka Bayu yang sangat geram tampak gatal kebingungan, menunjukan (bahwa dia) haus berkarya dan ternyata semuanya benar setiba saya di Jogja dia mengontak saya melalui Whatsapp “Jadi gimana ndra?” tapi itu tidak saya balas. Saya langsung berinisiatif membuat group di Whatsapp tepat di tanggal 29 November 2015. Sedikit curhat. Bermusik itu seperti pacaran, tidak bisa dipaksakan, harus ada chemistry antar personal. Saya hanya bisa bilang terimakasih banyak Tuhan masih memberi kesempatan kepada saya untuk berkarya lagi dengan mereka bertiga.

Apa yang pendengar bisa harapkan dari album baru kalian?
Di album Tahun Kedua, kami ingin menyajikan warna yang utuh dari Patric Wilson, (warna) dari EP sebelumnya. Kami kemas dengan Bahasa Indonesia agar mudah untuk dimengerti dan dapat diterima di telinga masyarakat umum. Topik 13 lagu Patric Wilson masih tidak jauh berbeda dengan EP sebelumnya. Topik pembahasan tidak jauh dari rasa tidak adil, tidak dicintai, cinta segitiga dan kehidupan yang tidak ideal. Karena memang masyarakat di Indonesia sendiri adalah masyarakat yang perasa. Apa saja dirasa-rasa.

Seperti gampang baper ya? Apa masih ada track seperti “Kick Your Boy” atau “Jangan Kembali”?
Kita memiliki sentuhan aransemen yang berbeda untuk di album Tahun Kedua. Berbeda dengan “Kick Your Boy” dan “Jangan Kembali”, namun masih di satu garis merah Patric Wilson.

Saya sendiri selalu mengasosiasikan Patric Wilson dengan “Kick Your Boy”. Lagu tersebut seperti sangat Patric Wilson sekali, album Tahun Kedua terdengar sedikit berbeda, apa memang kalian memang ingin menuju arah yang seperti ini?
Bayu: Kami tidak ingin dikotakkan dengan satu genre saja. Pengkotakkan genre yang terlalu fanatik dapat menyebabkan sense musik jadi berkurang dan tidak bergerak untuk mencari ide kreativitas terbaru. Kami sebenarnya lebih suka disebut sebagai alternative.
Wahyu: Album Tahun Kedua memang berbeda dari harmoni “Kick Your Boy”, kita menyatukan ego yang berbeda tentang musik setelah sekitar 5 tahun menjalani rutinitas masing-masing. Tidak pernah latihan bersama, membahas aransemen di dunia digital, ditambah semua lirik yang berbahasa Indonesia. Jadilah ini sebagai harmoni yang baru, Tahun Kedua.
Audra Agil: Tahun Kedua adalah dimana Patric Wilson menemukan real musik dan juga aransemen, kami mencoba dewasa.
Indra: 2017 bakal balik seperti (Patric Wilson) tahun 2008 lagi kok.

Setuju, terkadang mengkotakan genre memang secara tak langsung membatasi kreativitas. Lalu bagaimana kalian menyelesaikan materi album ini? Bayu sama Wahyu masih di luar kota kan?
Untuk album ini kita tidak pernah bertemu secara langsung di studio. Bayu memiliki beberapa materi dan kemudian kami diskusikan di grup Whatsapp, Audra gemar menulis lirik percintaan dan Indra sangat antusias dalam susunan beat drum yang ok, ditambah modifikasi alunan nada suara dari Wahyu. Format materi cukup unik, cara kerja kita benar benar transfer data via internet. Revisi materi yang cukup membuat geram adalah ketika (kita) tidak mendapatkan hasil yang baik. Aransemen yang telah terbentuk digunakan untuk guide drum saat recording drum di Delicore Studio Yogyakarta, kemudian recording vocal, editing arrangement instrument, mixing, & mastering dilakukan di home studio berlokasi di bekasi.

Lalu bagaimana kalian melihat jalan di depan kalian?
Kami tidak dapat berekspektasi lebih tinggi (lagi) terhadap kesuksesan album Tahun Kedua Patric Wilson. Kami punya misi lebih dari itu yaitu membangun minat kembali musisi Yogyakarta. Terjadi penurunan di skena musik maupun acara gigs di Jogja.

Bagaimana mengatasi perbedaan jarak yang memisahkan Jogja dengan Jakarta?
Terima kasih teknologi, tidak ada jarak. Kami seperti keluarga di grup Whatsapp, Kami sering bergosip hal baru tentang musik.

Pertanyaan terakhir, apa rencana terdekat kalian? Bisa dibocorkan kepada Backstage Whisp?
Tahun 2017 kami berencana untuk membuat EP.

Wow terima kasih untuk bocorannya, terima kasih juga untuk pembicaraannya Patric Wilson.

About The Author

Martin K.Y

I'd love to talk mostly about music and pro wrestling, sometimes about anime and basketball, come talk.

Share
Tweet
+1