“Bikin musik ndek kamar, gak ngikuti masa.” seloroh Bagas, vokalis dan juga gitaris dari band emo asal Malang, Beeswax ketika ditanya apakah ingin bermain musik di masa saat Nirvana meledak atau hidup di zaman ini.

Bagas, Iyok, Putra, dan Yayan adalah personifikasi nyata dari sebuah semangat indie rock. Istilah untuk genre musik tertentu yang berkembang di tahun 80an lalu mulai menular seperti epidemi di periode 90an, paska meledaknya demam Nirvana yang juga menciptakan sebuah mindset bahwa menjadi edgy dan punk adalah sebuah hal yang keren. Indie rock memang membebaskan dan juga memberi peluang baru bagi setiap orang yang pada masa mudanya bertumbuh dengan melihat Sonic Youth dan mempunyai angan-angan untuk menjadi rocker, menulis lagu sendiri, merekam lalu memainkannya di berbagai venue.

Secara sederhana, indie rock memberi peluang bagi semua orang untuk menciptakan sebuah karya. Yang jika dibandingkan dengan fenomena sekarang sejalan dengan jargon Youtuber di Indonesia saat ini yang secara implisit mengisyaratkan bahwa semua orang adalah kreator, tentu dengan batasannya masing-masing.

Beeswax membuat karya bukan untuk menjadi Youtuber atau terpukau dengan potensi pemasukan yang diterima melalui Youtube. Mereka sama seperti jutaan orang-orang lainnya, memiliki sedikit kesulitan dalam pengungkapan ekspresi secara langsung dan memerlukan media sebagai sarana pelepasan emosi.  “Aku sulit dalam menyampaikan sesuatu dan melalui musik aku bisa menyampaikan hal itu, melalui musik aku berekspresi.” tutur Iyok, gitaris dari Beeswax.

***


Berangkat dari sebuah proyek kamar tidur, sejatinya Beeswax merupakan proyek pribadi dari Bagas yang dalam waktu senggangnya mengunggah beberapa materi melalui akun Soundcloud pribadi milikinya sendiri. Berawal dari hal tersebut, Bagas justru mendapat kesempatan langsung untuk merilis beberapa lagu miliknya dalam format fisik setelah salah satu perwakilan dari Haum Entertainment menghubungi dia.

“Dari awal Beeswax emang proyekku sendiri, waktu itu Haum Entertainment tertarik buat merilis. Ternyata penjualannya lumayan, terpikiranlah untuk bikin band. Lalu aku mengajak mereka, jadilah berempat ini.”

Meski begitu, ide untuk membentuk sebuah band dengan tema emo midwest, sebenarnya sudah ada sebelum nama Beeswax tercetus. Ide kasar ini pertama muncul ketika Megatruh, Frank, dan Young Savage melakukan sebuah tur yang bernama Aku Lagi Tour tahun 2014 lalu. Walaupun kemudian karena satu dan lain hal, sebuah keadaan yang mereka sebut sebagai ruwet membuat Bagas akhirnya memutuskan berjalan sendiri dulu dan merilis sebuah EP berjudul First Step yang dirilis pada 2014 lalu.

Sesaat saja melihat mereka bersama, kita akan dengan mudah merasakan bahwa mereka ini terlihat lebih dari sekedar band. Misalnya saja ketika Putra, bassist mereka melontarkan sebuah celotehan singkat, anak yang lain akan langsung mengomentari celotehan tersebut, walau tak jarang dengan kata-kata yang menyindir tapi penuh kehangatan. Cerita paling kongkrit yang menarik diceritakan adalah bagaimana Iyok, Putra, dan Alfan (manajer Beeswax) pergi ke rumah Yayan untuk meminta ijin agar Yayan diperbolehkan berangkat ke Jakarta untuk bermain di We The Fest.

“Jadi memang aku berangkat ke We The Fest 2016 itu murni karena teman-teman, seharusnya aku gak bisa.” aku Yayan, “Tapi anak-anak pengen aku ikut, jadi anak-anak mencoba untuk ngomong (ke orang tua) dan ternyata boleh.”.

Kepercayaan terhadap satu sama lain dan kecocokan itu pulalah yang akhirnya mempengaruhi proses kreativitas mereka. Dalam menciptakan sebuah lagu, mereka menggunakan pendekatan personal, yang artinya tiap personel diberi kebebasan dalam memasukan ide mereka dalam materi yang disajikan.

Padahal jika ditelusuri, masing-masing personel dari Beeswax memiliki cerita yang cukup menarik soal perkenalan mereka dengan musik dan apa saja yang akhirnya membentuk karakter mereka. Berangkat dari anak remaja yang belajar gitar dari lagu Peterpan “Semua Tentang Kita” serta buku kumpulan lagu, Hot Chord. Mereka kini telah mengembangkan gaya bermain musik mereka sendiri yang dipengaruhi oleh berbagai figur. Bagas misalnya, adalah seseorang yang mengaku sangat menggemari Bob Nana (Braid). Sedangkan Iyok, secara eksplisit mengaku sangat mengidolakan Ned Russin (Title Fight) karena menurut Iyok mempunyai gaya permainan yang unorthodox. Bassist mereka, Putra adalah salah satu dari ribuan orang yang mengakui kenabian dari Kurt Cobain. Sementara Yayan bisa dibilang lebih fleksibel karena dia mengaku tidak memiliki style khusus yang harus dijadikan rujukan dalam bermain..

Hasil perpaduan mereka secara kolektif sampai saat ini sudah menghasilkan sebuah album debut yang mereka beri nama Growing Up Late.

Album inilah yang akhirnya mengantarkan mereka menjadi bahan pembicaraan paling hangat ketika kita menyebut skena musik di kota Malang. Bahkan mereka mengaku sempat mendengar sebuah julukan baru bagi kota Malang yang disebut sebagai kota Midwest Emo di Indonesia. Lucunya, ketika mereka ditanyai bagaimana julukan tersebut sampai terucap, mereka justru tertawa dan mengatakan tidak tahu apa-apa. Bahkan mereka sampai sekarang masih tidak memahami bagaimana hal tersebut sama sekali tidak memberikan dampak apa-apa bagi mereka.

“Serius? Perasaan gak ngasih efek apa-apa ke kita.” kata Bagas mengomentari julukan tersebut sambil tertawa.

Album Growing Up Late berbicara banyak mengenai emosi manusia, di album tersebut kita diajak untuk melihat sebuah harapan di depan mata, penghakiman atas diri sendiri, namun juga berbicara tentang pentingnya menerima keadaan seperti apa adanya. Album ini penuh makna katartik yang dengan mudah bisa dikaitkan dengan setiap individu pendengar, menjadikan album ini mampu menyentuh bagian-bagian tertentu dari sisi kemanusiaan kita.

Tema di album ini walaupun luas, lebih banyak berbicara melalui sudut pandang orang pertama. Mengisyaratkan bahwa album ini sebenarnya adalah sebuah curahan hati atau ekspresi personal dari penulis lirik yang membuat kita berasumsi bahwa Beeswax tak pernah ragu-ragu dalam menunjukan ekspresi mereka.

Mereka bukanlah sebuah band yang self-centered dan hanya berbicara tentang diri mereka sendiri. Mereka cenderung awas dengan keadaan sekitar mereka, terbukti ketika Iyok secara tiba-tiba menunjukan keanehan yang ada di sebuah foto kakek tua yang menghiasi ruangan Kopikina sore itu, “Itu kenapa resletingnya terbuka ya?” ungkap Iyok sambil menunjuk sebuah gambar yang tergantung di salah satu sisi ruangan. Tak hanya itu, sebuah lagu yang berjudul “Bleed” juga menunjukan bahwa mereka memiliki kepedulian sosial yang mereka tunjukan dengan cara meneriakan lirik “It’s okay to be sad.”, sebuah kalimat yang seringkali dinistakan oleh beberapa elemen masyarakat karena mengandung makna cengeng dan sangat tabu untuk dilakukan oleh kaum lelaki. Bahkan tak bisa dipungkiri, kesedihan acapkali dianggap sebagai bagian dari sebuah tragedi yang semestinya dihindari dengan sekuat tenaga.

“Kesedihan tak bisa dilepaskan dari kehidupan.” kata Iyok, menjelaskan tentang makna kesedihan menurut dia. Bagi dia, kesedihan adalah sesuatu yang sangat alami dan semestinya tak perlu ditutup-tutupi. Iyok menambahkan bahwa dalam sebuah kesedihan tak jarang terselip sebuah inspirasi. Secara lebih lanjut dia seolah mengumpamakan bahwa apapun yang ada di dunia ini tak lebihnya seperti dua buah sisi mata uang yang berlainan, tergantung dari sudut mana kita melihatnya.

Beeswax-Ecobar3

Mereka memang tidak selalu terdengar serius, beberapa jawaban mereka selalu diakhiri dengan tawa. Dibandingkan dengan personel yang lain, Bagas adalah orang yang hampir selalu mengakhiri kalimat miliknya dengan tawa. Boleh dikatakan, Bagas ini orangnya sangat mudah diprovokasi untuk tertawa ketika ada orang lain yang sedang berusaha melucu. Bahkan, Yayan, drummer mereka yang menganggap dirinya sebagai seorang pemikir yang penuh perhitungan tak jarang mengeluarkan komentar yang pada akhirnya akan mengundang gelak tawa dari anggota band yang lain juga.

Namun di balik keriangan mereka, esensi yang dapat ditarik dari setiap jawaban yang mereka keluarkan selalu konsisten. Termasuk ketika mereka membandingkan kekuatan serta maskulinitas dengan pengekspresian emosi sebagai hal yang sebenarnya tidak berkaitan sama sekali.

Bagi mereka, konsep yang mengatakan bahwa laki-laki sebaiknya tidak boleh menangis demi terlihat tangguh sudah semakin tidak relevan dengan perkembangan zaman. Mereka percaya bahwa setiap orang memiliki hak untuk mengeluarkan emosinya. Hanya saja, permasalahan mengenai pengungkapan emosi ini mereka anggap sebagai permasalahan fundamental yang terus menerus terjadi seperti layaknya sebuah rantai yang tak pernah putus.

“Dari kecil kita diajari untuk didikte, sebagai contoh ketika kita disuruh untuk menggambar sesuatu, biasanya kita akan menggambar hal yang sama. Tidak dibebasin, dari awal kita sudah diajari bahwa satu tambah satu sama dengan dua.” ungkap Bagas yang kemudian mengakhiri kalimatnya dengan sebuah lelucon yang berbunyi, “Jadi korbannya seperti aku ini, susah untuk bicara.” yang kemudian disambut dengan tawa dari personel Beeswax yang lain.

Ketika ditanya mengenai pendapat mereka untuk mengubah mindset yang sudah terbentuk di masyarakat mengenai pengungkapan ekspresi, Iyok setuju bahwa hal itu tak bisa dipisahkan dari pengaruh konstruk sosial yang sudah melekat kuat dalam struktur masyarakat.

“Terlalu tertata, gak ada yang berani untuk membuat sesuatu yang beda. Kadang kalo ada yang beda, walaupun benar, pasti dicela dulu kan? Proses untuk membuat orang paham itu kan lama banget, jadi pasti ada kontranya.”.

Relevansi terhadap keadaan di Indonesia inilah yang membuat mereka akhirnya percaya diri untuk menyanyikan bait “It’s okay to be sad.” dan dengan demikian memberi seruan kepada orang-orang untuk dapat lebih terbuka lagi karena mereka percaya bahwa dengan membagi keadaan diri kepada orang lain akan membantu proses pelepasan beban dan membuka banyak kesempatan untuk pencarian solusi yang baru.

Dalam suasana yang masih santai, penuh canda, dan ditemani oleh lagu top 40, pembicaraan dilanjutkan dengan sebuah tema yang sedikit serius. Sesekali para personel Beeswax menghisap rokok yang mereka selipkan di jari mereka, sembari mempersiapkan jawaban yang paling masuk akal. Kami kemudian berdiskusi mengenai kelayakan seorang lelaki untuk meluapkan emosi melalui tangisan. Sebagai kelompok yang tanpa ragu meneriakan lirik “It’s okay to be sad”, mereka percaya bahwa perkara ini adalah sesuatu yang sangat wajar dan tidak melulu ekslusif terhadap gender tertentu.

Bahkan ketika ditanya pendapatnya mengenai hal ini, Bagas justru kebingungan dan menganggap tidak ada hubungannya antara tangisan dengan jati diri seorang lelaki. Bahkan untuk mendukung pendapatnya, Bagas bercerita bahwa dirinya pernah menangis saat menonton Sheila on 7 secara langsung. “Mereka (Sheila on 7) itu legend.” kenang Bagas saat bercerita tentang pengalamannya dalam menonton Sheila On 7 di We The Fest 2016 kemarin. Cerita tersebut juga menunjukan bahwa Bagas dan banyak orang lainnya percaya bahwa emosi manusia memang sifatnya universal dan tidak eksklusif.

“Semua orang bisa nangis, gak masalah dengan itu.” ungkap Putra, bassist dari Beeswax melengkapi sekaligus menyetujui semua pendapat dari Bagas.

***

Beeswax-Ecobar2

Sekitar dua minggu yang lalu, Beeswax mendapat kesempatan untuk memamerkan aksi mereka dalam sebuah gelaran Submit Your Band yang diadakan sebagai bagian dari rangkaian acara We The Fest 2016. Bertempat di 365 Eco Bar, Kemang, Beeswax membawakan beberapa lagu dari album terbaru mereka, Growing Up Late dan mendapat sambutan yang luar biasa dari penonton yang telah membuat 365 Eco Bar malam itu penuh sesak.

Penonton tak hanya hanyut dalam tarian senar yang saling berdenting, tapi juga tak peduli lagi dengan membiarkan diri mereka larut dalam crowd surfing yang digagas secara spontan. Bahkan ketika intro dari lagu “Start The Line Break It All” dimainkan, hampir tanpa aba-aba semua penonton yang memadati 365 Eco Bar malam itu langsung memberikan tepuk tangan secara serentak. Beberapa penonton yang tak bisa menahan diri akhirnya ikut serta dalam huru hara yang mereka timbulkan selama kurang lebih 30 menit. Momen-momen seperti itulah yang selalu ditunggu oleh setiap penampil, momen dimana energi dari penonton akan terus memacu penampil untuk menghadirkan yang terbaik dari yang mereka punya.

“Energi yang dikeluarkan sama penonton biasanya kebawa ke penampilan. Jadi main makin enjoy, sound busuk pun rasanya jadi enak. Kalo penontonnya gak asik, pakai sound mahal pun rasanya jadi semacam main ya cuman main aja.” ungkap Bagas.

Malam itu juga menjadi pembuktian dari omongan Bagas sendiri, di tengah penonton yang sangat panas dan enerjik. Beeswax yang malam itu dibantu oleh Agung (Write The Future) dan Afif (Shewn) benar-benar melumat habis setiap lagu yang sudah dipersiapkan dalam setlist mereka. Tak hanya itu, Beeswax menjadi satu-satunya band pada malam itu yang melakukan encore karena penonton masih belum siap untuk mengatakan sampai jumpa pada penampilan mereka.

Satu hal yang membuat mereka terheran-heran adalah animo yang sedemikian besar itu tidak datang dari muka yang mereka kenal saja. Banyak sekali muka-muka yang belum pernah mereka jumpai sebelumnya, tapi mau membayar 20 ribu rupiah untuk ikut merayakan Beeswax malam itu. Bagi mereka pribadi, inilah esensi yang sebenarnya dari sebuah gigs. Ketika kalian datang ke gigs, kalian tidak hanya pergi untuk menunjukan eksistensi, kalian datang untuk bertemu dengan orang baru, menikmati musik dan menjalin sebuah relasi. Sehingga tanpa dikomandopun, tanpa saling kenal, para penonton dapat menciptakan suatu suasana kondusif, intim, dan juga hangat.

“(Dibandingin dengan festival besar) Malah lebih seru ketika main di house gigs atau gigs kecil begitu, lebih anget, lebih intim.” Bagas berhenti sejenak, kemudian melanjutkan, “Kalo main yang paling penting itu interaksi dengan penonton, kalo misal di acara kecil yang anget, terus mepet itu kan enak, pasti interaksinya terjalin. Ketika kita ngomong apa, biasanya mereka nanggepin. Jadi komunikasinya menjadi dua arah.”.

Meski begitu, Bagas mengakui bahwa Beeswax masih memiliki cukup banyak PR yang harus mereka kerjakan. Salah satunya adalah menciptakan sebuah atmosfer yang mendukung ketika penonton tidak merasa terkoneksi dengan penampilan mereka. Bahkan tanpa malu-malu, Bagas mengenang bagaimana mereka sempat mati gaya ketika mencoba berinteraksi dengan penonton saat bermain di We The Fest 2016 kemarin. Pada akhirnya, mereka mencoba memaafkan kejadian tersebut dengan menganggap mereka sebagai ‘orang asing yang berada di pasar yang memang bukan untuk mereka’.

Walau demikian, mereka tak akan menolak ketika kesempatan untuk bermain di festival sebesar itu muncul lagi. Tentunya mereka akan lebih siap.

***

Beeswax-WTF16

Salah satu atribut yang paling sering dibicarakan tentang emo adalah bagaimana musik bisa menjadi sangat jujur dan murni ketika musik tersebut meluap dari hati. Sehingga tak mengagetkan ketika kita mendengarkan Beeswax, pada saat yang bersamaan kita mampu menangkap emosi yang sedang mereka curahkan. Kejujuran dalam berkarya inilah yang akhirnya membuat mereka menganggap bahwa musisi top 40 zaman sekarang tidak akan bisa dibandingkan dengan musisi di era 80an.

“Pada masa itu (80an) musik masih kelihatan pure.” Iyok mengingat-ingat beberapa series Vinyl yang dia tonton sebelum melanjutkan, “Karena ke-analog-an dan raw-ness dari musik di zaman itu, itu pure talent. Band-bandnya di masa itu keren-keren.”.

Selagi membicarakan ini, pikiran saya tiba-tiba tertuju kepada band maupun seniman yang mengandalkan gimmick tertentu dalam usaha membuat karyanya lebih dikenal. Tentu saja, saya langsung menanyakan hal ini.

“Pada akhirnya karyanya yang akan berbicara lebih banyak.” ungkap Bagas menanggapi, “Bebas bagi mereka untuk menggunakan gimmick tertentu, tapi nanti karyanya mungkin tidak akan sejujur itu.”.

“Bener kata Bagas, kalo ada karya yang bisa bicara ngapain mesti pakai gimmick, contoh Efek Rumah Kaca, mereka kan gak pernah pakai gitu-gitu tapi keliatan kan kualitasnya?” Iyok menambahkan, “Memang gimmick itu salah satu bagian dari marketingnya, cara menjual sesuatu dengan gimmick, itu bisa jadi pilihan kesekian, kalo ada yang lebih baik kenapa gak? Kenapa harus pake yang gitu kan.”.

Yayan yang pada pembicaraan sore itu selalu mengagungkan dirinya sebagai seseorang pemikir yang penuh pertimbangan (walaupun pada saat tertentu, Putra langsung menimpali dengan candaan, “Mikir tok gak dilakoni (Mikir saja tidak dilakukan)”.) juga punya pendapat mengenai hal ini, Yayan menganggap bahwa pada saat ini kewajiban musisi saat rekaman terlalu sering digantikan dengan menggunakan session player. “Jadi dia tidak bertanggung jawab atas musiknya sendiri.” Kata Yayan. Yayan kemudian menganalogikan bagaimana seorang musisi zaman sekarang lebih suka mengambil jalan pintas ketimbang belajar sesuatu yang belum dia pahami, “Contoh saat mau take gitar, karena dia gak bisa bermain gitar, dia akhirnya memilih untuk menggunakan session player.”.

Meski demikian, tidak semua personel sepenuhnya setuju bahwa musik di beberapa dekade yang lalu selalu lebih baik. Putra sebagai contoh, justru memilih untuk bermain musik di masa sekarang walaupun pada akhirnya Yayan langsung menyanggah pendapat Putra dengan memaparkan sejumlah fakta yang terjadi di Indonesia. Tentunya sanggahan itu diakhiri dengan canda tawa.

Menjadi murni dan jujur erat kaitannya dengan penerimaan akan diri sendiri. Lagu “Buried” di album debut mereka Growing Up Late adalah sebuah lagu yang menggambarkan secara sekilas mengenai hal ini, lagu itu seperti ingin mengatakan ‘ketika kita sudah menerima keadaan diri sendiri, kita akan melihat cahaya dan harapan baru tersaji di hadapan kita’. Sehingga ketika ditanya tentang hal ini, Bagas mengatakan bahwa pengenalan akan kapasitas diri adalah sesuatu yang sangat penting bagi siapapun, hal ini menurut dia akan mempengaruhi motivasi diri dari seseorang. Bagas lalu melanjutkan dengan senang hati dan membagikan pendapatnya mengenai kondisi di Indonesia saat ini, dimana acara-acara motivasi seperti Mario Teguh pernah begitu diminati. Hal itu sekaligus mengundang pertanyaan apakah benar Indonesia sedang dilanda krisis dalam memotivasi diri sendiri?

Namun sebelum lebih jauh, percayalah bahwa obrolan yang kami lakukan pada sore itu sejujurnya tidak terdengar seserius ini. Bahkan kuantitas bercanda jika ditimbang akan melampaui berapa lama kita benar-benar berdiskusi secara serius.

“Yang perlu dicari kenapa bisa sampai terjadi krisis motivasi? Kan itu runtutanya panjang, apalagi kalo kita berusia 20-30 tahun, berarti masalahnya bisa terjadi berpuluh tahun yang lalu kan?” Bagas menghela nafas kemudian melanjutkan, “Yang paling penting adalah kita paham akan kapasitas diri kita sendiri, kita paham harus melakukan apa. Banyak orang yang kadang kebingungan dengan kapasitasnya sendiri, sehingga jadinya malah kemana-mana. Akhirnya tanpa motivasi dari orang lain pun kita bisa jalan sendiri, sesuatu dalam diri itu akan menggerakan kita sendiri.”.

***

Sekilas ketika kita melihat Beeswax dari luar, kita tidak akan pernah menyangka bahwa mereka adalah band yang benar-benar serius dalam melakukan ritual mereka dalam menekuni emo. Penampilan mereka jauh dari persepsi umum tentang emo yang sudah mengakar di Indonesia. Emo di Indonesia selalu digambarkan dengan stereotype yang kurang tepat seperti rambut polem ala Sasuke, kelakuan masokis, dan juga celana sempit yang kadang tak memberi ruang sedikitpun bagi selangkangan untuk bernapas. Beeswax, sama seperti orang dewasa muda pada umumnya, lebih suka dengan gaya kasual seperti menggunakan kaos dan jeans reguler dan hanya dengan seperti itu, mereka bisa saja lebih emo daripada pengguna MySpace di tahun 2004.

“Waktu itu zaman 90an awal emo kan emang lagi kenceng dan mulai dilirik oleh industri besar. Nah industri itu kan butuh karakter atau gimmick untuk menjual produk mereka. Akhirnya mereka membuat gimmick itu dengan menyakiti diri sendiri, rambut yang seperti itu, atau pakaian yang seperti itu. Padahal kalo kita melihat kembali ke roots-nya kan gak sama sekali. Kita muncul untuk menggembalikan stigma itu.” Bagas menyulut rokok miliknya sebelum melanjutkan “Kita akan melakukan apa yang kita yakini, kalo musik yang kita bawain tidak melulu seputar itu.”.

***

Saat ini, Beeswax sedang mempersiapkan album kedua mereka yang diharapkan dapat dirilis pada akhir tahun 2016 ini. Salah satu lagu yang digossipkan akan masuk di album baru mereka, “Wellspring” juga baru saja masuk dalam kompilasi emo se-Asia yang digagas oleh Unite Asia, berjudul Emotion, No. Hanya saja sampai saat ini mereka belum mau memberikan janji yang muluk-muluk tentang kapan album kedua mereka akan dirilis. “Belum direncanakan sih deadline-nya kapan.” ungkap Putra.

Pembicaraan sore itu diakhiri dengan sebuah pertanyaan klise, namun selalu menarik untuk ditanyakan. “Sampai mana mimpi kalian?” tanya saya kepada mereka. Beberapa personel menceritakan mimpi mereka masing-masing, namun Iyok terlihat selangkah lebih visioner ketika dia menceritakan mimpinya dengan singkat dan lugas.

“Sampai main di Glastonbury.” jawab Iyok.

 

*Semua foto diambil dari dokumentasi pribadi Beeswax

About The Author

Martin K.Y

I'd love to talk mostly about music and pro wrestling, sometimes about anime and basketball, come talk.

Share
Tweet
+1